"Pada jarak khusus itu, tidak ada masa lalu, masa kini, atau masa depan. Hanya ada keabadian. Alam semesta di luar Cakrawala Kosmik dapat dihuni, meski hanya oleh entitas mirip cahaya," tulisnya.
Sanggahan dari Perspektif Ilmiah Lain
Namun, komunitas ilmiah umumnya tidak sepakat dengan interpretasi Guillen. Konsep waktu yang "membeku" di Cakrawala Kosmik bukanlah penghentian literal waktu. Fenomena tersebut lebih merupakan ilusi perspektif akibat peregangan cahaya (redshift ekstrem) oleh ekspansi alam semesta.
Dari sudut pandang kita sebagai pengamat, peristiwa di sana tampak melambat, tetapi di lokasi tersebut, waktu tetap berjalan normal. Analoginya, jika seseorang berada di cakrawala kosmik dan melihat Bumi, kehidupan di planet kita akan tampak hampir statis, padahal kenyataannya aktivitas sehari-hari terus berlangsung.
Kesimpulan: Spekulasi yang Memicu Debat
Klaim Dr. Michael Guillen tentang lokasi Tuhan ini tetap menjadi spekulasi yang kontroversial dan memicu debat. Teori ini belum didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dan lebih merupakan interpretasi pribadi yang menyatukan teologi dengan kosmologi. Sampai saat ini, keberadaan Tuhan tetap berada di ranah keyakinan dan di luar batas pembuktian ilmu pengetahuan fisika konvensional.
Artikel Terkait