Analis: Ketangguhan Militer Iran Buat Konflik di Timur Tengah Berkepanjangan

- Senin, 16 Maret 2026 | 05:00 WIB
Analis: Ketangguhan Militer Iran Buat Konflik di Timur Tengah Berkepanjangan

PARADAPOS.COM - Konflik bersenjata di Timur Tengah yang memasuki minggu kedua menunjukkan dinamika yang mengejutkan, dengan Iran dinilai mampu memberikan perlawanan sengit terhadap Amerika Serikat dan Israel. Analisis dari pakar teknologi menyoroti ketangguhan dan inovasi militer Iran sebagai faktor kunci yang membuat perkiraan awal tentang konflik yang cepat ini tidak terbukti.

Analisis Pakar: Ketangguhan Iran Berakar dari Inovasi dan Institusi

Ketangguhan Iran dalam konflik ini menarik perhatian para pengamat internasional. Prof. Sulfikar Amir, seorang pakar teknologi dari Nanyang Technological Institute, memberikan perspektif mendalam mengenai hal ini. Dalam sebuah diskusi yang diunggah pada Senin, 16 Maret 2026, profesor yang juga seorang sosiolog ini mengungkapkan bahwa kekuatan Iran berasal dari kemampuan inovasi yang lahir dari kondisi sosial dan politiknya.

“Iran ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan inovasi yang luar biasa efektif untuk membuat Donald Trump itu pusing tujuh keliling,” ungkapnya. “Dia pikir dengan menghantam Iran dalam waktu 2-3 hari, Iran akan tunduk pada kemampuan Amerika Serikat, apalagi pada hari pertama, Ayatollah Khamenei dibunuh melalui serangan rudal Israel. Tapi ternyata tidak, gitu.”

Lebih lanjut, Sulfikar menjelaskan pendekatan studinya yang unik. “Nah, sebagai seorang sosiolog, saya selalu tertarik melihat teknologi dalam kacamata sosial dalam dimensi sosial,” tambahnya.

Kemampuan Teknologi yang Mengimbangi Kekuatan Adidaya

Menurut analisis Prof. Amir, teknologi militer Iran ternyata berkembang hingga mampu mengimbangi, bahkan dalam beberapa aspek mengungguli, teknologi milik negara adidaya seperti Amerika Serikat. Capaian ini, menurutnya, bukanlah sebuah kebetulan atau keajaiban semata.

Inovasi-inovasi tersebut justru sukses dikembangkan oleh para ilmuwan dan insinyur dalam negeri, berkat fondasi sistem politik dan kepemimpinan yang solid. “Dan ini tentu tidak lepas dari institusi yang menjadi penopang rezim Islamic Republic of Iran,” jelasnya.

Asumsi yang Keliru tentang Stabilitas Iran

Prof. Sulfikar juga menyoroti kesalahan penilaian yang dilakukan oleh pihak lawan, khususnya pemerintahan Donald Trump kala itu. Kesalahan fatal itu terletak pada asumsi yang terlalu disederhanakan tentang stabilitas politik Iran.

“Ada asumsi bahwa kalau misalnya dia berhasil membunuh pemimpin (Iran), maka seluruh rezimnya akan kolaps. Itu yang terjadi di Venezuela, itu yang terjadi di Irak tahun 2003, terjadi di Libya, Syria. Tapi Iran ini berbeda,” pungkas sang profesor.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi kompleksitas struktur sosial-politik Iran yang, dalam pandangannya, telah menciptakan ketahanan nasional yang luar biasa. Ketahanan inilah yang kemudian menjadi pondasi bagi kemandirian dan kemajuan teknologinya di tengah tekanan dan konflik.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar