Direktur PoliEco Digital: Hilirisasi dan Optimalisasi DHE Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tekanan Global

- Minggu, 14 Juni 2026 | 07:00 WIB
Direktur PoliEco Digital: Hilirisasi dan Optimalisasi DHE Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tekanan Global
PARADAPOS.COM - Jakarta, 14 Juni 2026 – Direktur PoliEco Digital Insight Institute, Anthony Leong, menilai kebijakan hilirisasi industri dan optimalisasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) merupakan kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. Menurutnya, kedua komponen ini adalah bentuk nyata nasionalisme ekonomi yang berfokus pada pengelolaan dan penyerapan manfaat kekayaan alam di dalam negeri. Anthony menekankan bahwa arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada penguatan tata kelola sumber daya alam (SDA), hilirisasi, dan DHE sudah berada di jalur yang tepat.

Nasionalisme Ekonomi sebagai Fondasi

Anthony Leong menjelaskan bahwa nasionalisme ekonomi bukan sekadar slogan, melainkan strategi untuk memastikan kekayaan nasional dikelola demi kemakmuran rakyat. “Nasionalisme ekonomi adalah memastikan bahwa kekayaan nasional, devisa nasional, dan sumber daya strategis nasional dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Inilah yang sedang dibangun pemerintah Presiden Prabowo saat ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu. Ia pun mengutip pemikiran sosiolog ekonomi Liah Greenfeld dalam buku "The Spirit of Capitalism: Nationalism and Economic Growth". Menurut Anthony, kemajuan ekonomi modern tidak lahir secara kebetulan, melainkan tumbuh dari kemampuan suatu bangsa memperjuangkan kepentingan ekonominya sendiri. “Sejarah menunjukkan bahwa hampir seluruh negara yang berhasil melakukan lompatan ekonomi besar membangun kemajuannya di atas fondasi nasionalisme ekonomi yang kuat, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok,” tuturnya.

Skala Ekonomi yang Strategis

Anthony mencatat, komoditas yang masuk dalam tahap awal skema tata kelola ekspor strategis—seperti batu bara, kelapa sawit (CPO), dan ferroalloy—memiliki nilai ekspor lebih dari 66 miliar dolar AS per tahun. Angka tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total ekspor nasional. “Nilai ekonomi yang sangat besar tersebut menunjukkan betapa strategisnya kebijakan yang sedang dijalankan pemerintah dalam memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global,” jelasnya. Ia menambahkan, Indonesia justru sedang memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang melalui kebijakan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah SDA, memperbesar penerimaan negara, serta memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional.

Evaluasi Berbasis Kepentingan Nasional

Menurut Anthony, yang terpenting bukanlah sekadar angka, melainkan dampak kebijakan terhadap kepentingan nasional. “Yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut memperkuat kepentingan nasional Indonesia, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memperbesar manfaat ekonomi dari kekayaan alam yang kita miliki. Dalam konteks itulah kebijakan ini harus dinilai,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya ketenangan dan objektivitas dalam setiap perdebatan yang berkembang. Seluruh pemangku kepentingan perlu memastikan diskusi tetap didasarkan pada data dan tujuan bersama untuk memperkuat daya saing Indonesia. “Karena itu yang dibutuhkan adalah ketenangan, objektivitas, dan keberanian untuk melihat kepentingan nasional dalam perspektif jangka panjang,” tegas Anthony.

Dampak pada Stabilitas dan Daya Saing

Anthony menjelaskan, kebijakan DHE, hilirisasi, dan tata kelola ekspor strategis melalui Danantara merupakan instrumen yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang. Semakin besar devisa hasil ekspor yang berada dalam sistem keuangan domestik, semakin kuat stabilitas nilai tukar, likuiditas perbankan, dan kapasitas pembiayaan pembangunan nasional. Demikian pula dengan hilirisasi. Indonesia tidak lagi hanya menjual bahan mentah, tetapi mulai membangun industri pengolahan yang menghasilkan nilai tambah lebih besar, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan daya saing nasional. “Kita harus memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak hanya menghasilkan angka ekspor yang besar, tetapi juga menghasilkan kemakmuran yang lebih besar bagi bangsa Indonesia,” kata Anthony menegaskan. Ia optimistis, keberhasilan agenda ini akan menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama Asia pada dekade mendatang.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler