Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Gizi Anak atau Cuma Proyek Anggaran?

- Jumat, 23 Januari 2026 | 10:00 WIB
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Solusi Gizi Anak atau Cuma Proyek Anggaran?

Potensi MBG sebagai Penggerak Ekonomi Riil

Dari perspektif ekonomi, MBG berpotensi menjadi mesin ekonomi riil. Kebutuhan pangan rutin berskala nasional dapat menjadi permintaan stabil bagi petani, nelayan, dan UMKM pangan lokal. Jika dikelola benar, MBG dapat menciptakan efek pengganda: membuka lapangan kerja dan mendorong pemerataan pertumbuhan. Setiap porsi makanan di sekolah idealnya menjadi hasil kerja ekonomi lokal.

Tantangan Tata Kelola dan Peran Teknologi

Potensi besar ini membutuhkan desain tata kelola cermat. Negara harus hindari distorsi pasar, seperti ketergantungan produsen kecil pada satu pembeli besar. MBG harus dirancang sebagai penggerak ekosistem, bukan penguasa pasar. Teknologi berperan strategis sebagai alat untuk memperkuat tata kelola, memantau rantai pasok lokal, dan mengevaluasi dampak program secara transparan dan akuntabel.

Prioritas untuk Daerah 3T dan Komunikasi Publik

Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) harus menjadi prioritas utama. Di sana, MBG adalah simbol kehadiran negara yang harus dibarengi dengan fasilitas sekolah layak dan guru sejahtera. Dari sisi komunikasi, MBG perlu dikemas sebagai strategi pembangunan manusia jangka panjang, bukan program bantuan konsumtif. Transparansi dan narasi yang tepat akan membangun legitimasi publik.

Kesimpulan: Mengarahkan MBG Menjadi Investasi Masa Depan

Pertanyaan "MBG: mesin gizi, ekonomi, atau uang?" adalah soal pengarahan. MBG harus menjadi:

  • Mesin Gizi yang memperbaiki kesehatan anak.
  • Mesin Ekonomi yang menggerakkan ekonomi riil.
  • Mesin Sistem yang membangun tata kelola transparan.

Dengan keberpihakan pada sekolah, ekonomi lokal, dan tata kelola sehat, MBG berpotensi menjadi investasi masa depan bangsa yang melampaui sekadar proyek anggaran besar.

Penulis adalah Ketua Bidang Kebijakan Nasional IA-ITB dan Mahasiswa Magister Medkom Komunikasi Krisis UP.

Halaman:

Komentar