Indonesia dalam Dewan Perdamaian AS-Israel: Berpotensi Melanggar Prinsip Bebas Aktif?
Keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian yang digagas Amerika Serikat, bersama dengan kuasa kolonial Israel, menuai kritik dan pertanyaan mendasar. Banyak pihak mempertanyakan keselarasan langkah ini dengan politik luar negeri bebas aktif dan konstitusi Indonesia yang menentang penjajahan.
Formula Kerjasama dan Implikasinya bagi Palestina
Dewan Perdamaian ini dianggap membentuk formula kerjasama kebijakan AS dan Israel di Palestina. Mandat dewan mencakup pelucutan kelompok pejuang kemerdekaan Hamas, yang memenangkan pemilu legislatif di Gaza, dan mendukung otoritas Fatah untuk memegang kekuasaan. Kritikus menilai ini menciptakan pemerintahan tidak demokratis di Palestina.
Lebih lanjut, rencana pembentukan International Stabilization Force (ISF) yang dikendalikan militer AS, bukan PBB, menimbulkan dilema. Jika TNI diterjunkan, di pihak mana mereka akan berpihak: Palestina yang terjajah atau Israel yang didukung AS?
Penyimpangan dari Prinsip Bebas Aktif dan Sejarah
Bergabung dengan inisiatif yang melibatkan AS dan Israel dinilai dapat bertentangan dengan prinsip bebas aktif. Sejumlah tokoh, termasuk TB Hasanudin dari Komisi I DPR, telah menyuarakan keprihatinan ini. Amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan "penjajahan di atas dunia harus dihapuskan" seolah terabaikan ketika Indonesia sepakat melucuti kelompok pejuang kemerdekaan Palestina.
Indonesia dianggap melupakan sejarah perjuangan kemerdekaannya sendiri. Kesepakatan untuk melumpuhkan Hamas, yang lahir dari perjuangan rakyat Palestina, dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat anti-kolonialisme.
Artikel Terkait
Insiden Paspampres vs Pers Inggris di London: Klarifikasi Resmi dan Kronologi Lengkap
Satpam SMP di Luwu Utara Dihajar Murid: Kronologi Lengkap & Fakta Polisi
Fakta Kasus Es Gabus Viral: Hasil Lab Bantah Tuduhan Spons, Polisi Minta Maaf
Oknum Aparat Minta Maaf ke Penjual Es Kue Bogor: Kronologi Lengkap & Bantuan Hotman Paris