PARADAPOS.COM - Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden RI periode 1993-1998 dan mantan Panglima ABRI, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Almarhum, yang merupakan lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat tahun 1959, mengawali karier militer dari posisi operasional hingga menduduki sejumlah jabatan strategis nasional.
Dari Ajudan Presiden ke Puncak Hierarki Militer
Perjalanan karier Try Sutrisno yang gemilang tak dapat dipisahkan dari kepercayaan yang diberikan Presiden Soeharto kepadanya. Pada 1974, Kolonel Try diangkat sebagai ajudan presiden, sebuah posisi yang diembannya cukup lama. Lama masa tugasnya ini bahkan menarik perhatian atasan langsungnya saat itu, Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf, yang merasa sudah waktunya Try dipromosikan.
Jusuf telah menyiapkan posisi penting bagi Try, yakni sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) XV/Udayana di Bali. Jabatan ini dianggap strategis, mengingat wilayah Kodam Udayana saat itu mencakup Timor Timur yang masih bergolak, dan dapat menjadi batu loncatan menuju pangkat jenderal bintang dua.
Keengganan Soeharto Melepas Sang Ajudan
Namun, rencana promosi itu berulang kali menemui penolakan dari Istana. Soeharto tampaknya belum rela melepas ajudan kepercayaannya itu untuk bertugas di lapangan.
"Wah, nanti dulu. Kita perlu matangkan dulu ya, Pak Jusuf," ucap Soeharto kala itu, seperti dikisahkan dalam literatur sejarah.
M. Jusuf pun kembali mengajukan permohonan, tetapi jawaban dari Presiden tetap sama. "Belum waktunya sekarang ini," tutur Soeharto, menegaskan keinginannya untuk mempertahankan Try di sampingnya. Kisah ini tercatat dalam buku "Jenderal M Jusuf, Panglima Para Prajurit" karya Atmadji Sumakidjo.
Setelah didesak beberapa kali, Soeharto akhirnya memberikan izin. Namun, ia menyertai pelepasan itu dengan pesan khusus kepada Jenderal M. Jusuf untuk tetap membimbing dan mengarahkan perwira muda tersebut dalam tugas barunya.
Lonjakan Karier Setelah 'Dilepas'
Setelah izin diberikan, karier Try Sutrisno pun melesat dengan cepat. Ia langsung diangkat menjadi Kasdam Udayana, tepat seperti yang direncanakan. Dari Bali, perjalanannya berlanjut dengan menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya di Palembang, kemudian Pangdam V/Jaya di Jakarta, sebelum menduduki posisi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.
Berdasarkan catatan dalam buku "Kasad Jenderal Try Sutrisno, Sosok Arek Suroboyo" terbitan Disjarah AD (2019), Try kemudian mencapai puncak karier di Angkatan Darat dengan diangkat sebagai Kepala Staf AD ke-15 pada 1986, menggantikan Jenderal Rudini.
Prestasinya ternyata belum berhenti di sana. Hanya dalam waktu satu setengah tahun memimpin AD, Try kembali dipromosikan untuk memegang komando tertinggi militer sebagai Panglima ABRI ke-9 pada 1988, menggantikan Jenderal L.B. Moerdani. Lima tahun memimpin ABRI, jalan hidupnya membawanya ke panggung politik nasional, di mana ia terpilih sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto dari 1993 hingga akhir masa jabatan mereka pada 1998.
Artikel Terkait
Aparat Gabungan Kuasai Markas KKB di Nabire, Sita Ratusan Amunisi dan Puluhan Juta Rupiah
Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Meninggal Dunia Usai Serangan Udara AS-Israel
Hakim Federal AS Tolak Gugatan, Proyek Ruang Jamuan Trump di Gedung Putih Dapat Lanjut
Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo antara AS-Iran Tidak Realistis