Bundaran HI Berubah Jadi Ruang Perayaan Waisak, Warga Lintas Iman Padati Lokasi

- Minggu, 31 Mei 2026 | 12:25 WIB
Bundaran HI Berubah Jadi Ruang Perayaan Waisak, Warga Lintas Iman Padati Lokasi
PARADAPOS.COM - Jakarta, 31 Mei 2026. Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta Pusat berubah wajah menjadi ruang perayaan terbuka untuk memperingati Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) yang digelar untuk pertama kalinya di lokasi ikonik tersebut. Langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini tidak hanya mempercantik estetika kota, tetapi juga menjadi simbol pengakuan terhadap keberagaman dan kesetaraan hak beragama di ruang publik ibu kota. Ornamen keagamaan yang dipajang di pelataran Bundaran HI telah menarik perhatian warga dari berbagai latar belakang, menciptakan momen toleransi yang hangat di tengah hiruk-pikuk metropolitan.

Wajah Baru Toleransi di Pusat Kota

Sepanjang sore hingga malam mulai membayang, area Bundaran HI dipenuhi oleh pengunjung yang antusias. Lampion-lampion berwarna-warni dan instalasi budaya Buddha menjadi latar belakang swafoto warga lintas iman. Suasana yang tercipta bukanlah eksklusivitas, melainkan ruang interaksi yang cair dan alami. Sisilia, seorang warga berusia 59 tahun yang turut merayakan Waisak, mengungkapkan kegembiraannya saat berbincang di lokasi. "Pastinya bagus ya. Jangan hanya momen Idulfitri atau Natal saja. Waisak juga umatnya banyak. Umat Buddha pasti senang kalau melihat ada perayaan seperti ini, jadi lebih semangat," ujarnya. Baginya, kehadiran ornamen keagamaan di ruang publik terbuka ini merupakan bukti nyata bahwa negara hadir memberikan atensi yang adil bagi seluruh pemeluk agama, tanpa terkecuali. Langkah Pemprov DKI Jakarta ini, menurutnya, mendapat tempat spesial di hati masyarakat.

Potret Kebersamaan Lintas Iman

Yang menarik dari perayaan ini adalah respons spontan dari warga yang tidak hanya berasal dari kalangan umat Buddha. Sisilia mengamati sendiri bagaimana sekat-sekat perbedaan melebur begitu saja di bawah pendar lampion. "Saya lihat yang foto-foto tidak hanya dari agama Buddha saja. Banyak juga yang Muslim. Mereka ikut berfoto dan membantu mengambilkan foto. Jadi sama-sama memeriahkan," tuturnya. Pemandangan saling melempar senyum dan saling bantu mengabadikan momen berswafoto itu menjadi potret toleransi yang mahal. Antusiasme masyarakat yang begitu masif membuktikan bahwa simbol keagamaan di ruang publik justru efektif memicu lahirnya kebersamaan yang natural, bukan perpecahan.

Harapan untuk Masa Depan

Mengakhiri langkah kakinya di kawasan Bundaran HI, Sisilia menaruh harapan besar agar terobosan dari Pemprov DKI Jakarta ini tidak berhenti sebagai agenda musiman belaka. Langkah awal ini, menurutnya, harus menjadi fondasi kokoh untuk merawat wajah inklusif Jakarta di masa-masa yang akan datang. "Menurut saya yang ada sekarang sudah lumayan. Setahu saya dulu belum ada acara seperti ini. Tahun ini ada ide yang cukup bagus. Mudah-mudahan tahun depan lebih bagus lagi dan lebih meriah," harap Sisilia. Instalasi yang dipajang di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi magnet masyarakat selama momentum perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Dengan adanya perayaan ini, Jakarta tidak hanya bersolek secara visual, tetapi juga menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang patut dirayakan bersama.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar