Longsor di Tanah Datar Bendung Sungai, Warga Hilir Siaga Banjir Bandang

- Kamis, 16 April 2026 | 04:50 WIB
Longsor di Tanah Datar Bendung Sungai, Warga Hilir Siaga Banjir Bandang

PARADAPOS.COM - Longsor besar di Bukik Malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, telah menutup total aliran Sungai Banda Kulo. Material tanah dan batuan dengan ketinggian sekitar 15 meter itu membendung sungai, menciptakan genangan air yang mengancam memicu banjir bandang ke permukiman di hilir, terutama di Muaro Samuik. Pemerintah setempat telah bergerak cepat dengan menurunkan alat berat dan mengimbau warga untuk waspada serta siap mengungsi.

Ancaman di Hilir dan Upaya Warga

Dampak langsung dari tersumbatnya sungai itu adalah terbentuknya danau baru di lokasi longsoran. Genangan air yang terus bertambah itu menimbulkan kecemasan mendalam di kalangan warga sepanjang aliran Sungai Banda Kulo. Bayangan bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi beberapa bulan sebelumnya masih jelas dalam ingatan mereka.

Dengan peralatan seadanya, sejumlah warga berinisiatif membersihkan material. Namun, upaya manual itu terasa tak memadai menghadapi timbunan sedalam belasan meter. Kekhawatiran utama mereka adalah jika bendungan alam itu jebol secara tiba-tiba, mengirimkan gelombang air dan material yang menghancurkan segala sesuatu di bawahnya.

Respon Cepat Pemerintah Daerah

Merespon laporan warga, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar langsung mengambil langkah koordinasi untuk penanganan darurat. Fokus utama adalah mengamankan warga di zona risiko sambil berupaya membuka aliran sungai. Imbauan resmi telah disampaikan agar masyarakat di sekitar muara sungai meningkatkan kewaspadaan, menjauhi badan sungai, dan bersiap mengungsi ke tempat yang lebih aman jika hujan lebat mengguyur kawasan tersebut.

Bupati Tanah Datar, Eka Putra, menegaskan komitmen penanganan pada Kamis (16/4/2026). "Hari ini alat berat dari BKSDA provinsi akan diturunkan. Kami tidak hentinya mengimbau warga yang tinggal di bawah agar waspada dan segera mengungsi ketika hujan lebat untuk menjauhi badan sungai," jelasnya.

Langkah pre-emptif ini dinilai krusial untuk mencegah korban jiwa sebelum normalisasi aliran sungai dapat diselesaikan secara tuntas. Kehadiran alat berat diharapkan dapat mempercepat proses pembukaan saluran air, mengurangi volume genangan, dan secara bertahap meredakan ancaman yang membayangi warga.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar