Deddy Corbuzier Akui Kecewa dan Sesali Dukungannya pada Program Makan Bergizi Gratis

- Kamis, 14 Mei 2026 | 13:25 WIB
Deddy Corbuzier Akui Kecewa dan Sesali Dukungannya pada Program Makan Bergizi Gratis

PARADAPOS.COM - Deddy Corbuzier secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif unggulan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Pernyataan ini ia sampaikan dalam sebuah podcast bersama pakar hukum Feri Amsari yang tayang di kanal YouTube pribadinya pada 11 Mei 2026. Dalam perbincangan tersebut, Deddy mengaku menyesali dukungannya yang dulu begitu kuat terhadap program yang kini dinilainya bermasalah dalam implementasi di lapangan.

Dari Pembela Setia Menjadi Kritikus

Awalnya, Deddy Corbuzier adalah salah satu pendukung vokal program MBG. Ia melihat program ini memiliki visi yang mulia, terutama dalam upaya meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Namun, pengamatan langsung terhadap jalannya program di lapangan membuatnya berubah pikiran.

"Waktu itu saya bela mati-matian program MBG, karena menurut saya pribadi pada saat itu program ini mulia banget," ungkapnya.

Kekecewaan itu mulai muncul ketika Deddy menyaksikan sendiri berbagai persoalan teknis yang menggerogoti program. Ia menyebut rantai distribusi yang kacau, kebocoran anggaran, serta ketiadaan proyek percontohan yang memadai sebagai faktor utama yang membuat program ini melenceng dari jalurnya.

Masalah di Lapangan yang Terbaca

"Essentially memang bagus program ini, namun melihat di lapangan, supply chain yang berantakan, anggaran bocor di lapangan, nggak ada piloting," tambah Deddy.

Ia menekankan bahwa meskipun konsep dasar MBG tetap layak dipertahankan, proses eksekusi yang tidak tertata dengan baik justru berpotensi menghambat tujuan utama program. Tanpa sistem pengawasan yang ketat, kata Deddy, program sebesar ini rawan disalahgunakan.

Salah satu contoh yang ia soroti adalah kasus viral mitra Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berjoget sambil memamerkan insentif harian sebesar Rp6 juta. Menurut Deddy, insiden itu menjadi bukti nyata lemahnya kontrol dalam pelaksanaan program.

Kesamaan Pandangan dengan Pakar Hukum

Dalam podcast tersebut, Deddy dan Feri Amsari sepakat pada satu titik: ide-ide besar penguasa sering kali tampak sempurna di atas kertas, tetapi kacau saat diimplementasikan. Feri, misalnya, menolak Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan karena konsepnya, melainkan karena cara mewujudkannya yang dinilai bermasalah. Hal serupa kini dirasakan Deddy terhadap MBG.

Meski kecewa, Deddy menegaskan bahwa dirinya tidak serta-merta menolak program ini secara keseluruhan. Ia tetap mendukung tujuan mulia di balik MBG, yakni meningkatkan gizi masyarakat. Namun, ia mendesak pemerintah untuk segera membenahi sistem pengelolaan, distribusi, dan pengawasan agar program ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar