Apakah, ITB rela menjadi keset/alas kaki dari Aguan? Apakah, ITB mau mempermalukan institusi akademik, mengikuti jejak UI dan UGM?
UI, telah dikencingi oleh Bahlil Lahadalia. Akan tetapi, UI segera membasuh najis itu, dengan membatalkan gelar doktor Bahlil.
UGM, diberakin oleh kasus ijazah palsu Jokowi. Sampai saat ini, UGM belum menempuh jalan untuk bersuci, membersihkan hadats besar ijazah palsu, seperti membentuk tim melakukan penelitian, seperti yang telah ditempuh oleh UI.
Adapun ITB, jika rencana nyebokin Aguan dilanjutkan, lebih parah. Dikarenakan beberapa alasan, yaitu:
Pertama, ITB adalah institusi pendidikan tinggi negeri. Jika ada rencana ekspansi pelayanan pendidikan dengan membuka cabang di wilayah tertentu, harusnya berkonsultasi dengan pemerintah. Bukan dengan NONO SAMPONO.
Kedua, proyek PIK-2 adalah proyek yang status PSN nya telah dibatalkan oleh Pemerintah Presiden Prabowo.
ITB, sama saja mengambil tindakan kontradiktif dengan pemerintah, karena menjalin kerjasama dengan entitas yang bermasalah dengan rakyat Banten, juga yang status PSN proyeknya telah dibatalkan pemerintah.
Ketiga, ITB tak sadar hanya akan dijadikan tumbal oleh Aguan. Sama seperti NU dan Muhammadiyah yang ditumbalkan oleh Jokowi dalam kasus tambang Batubara.
NU dan Muhammadiyah hingga saat ini tak memproduksi tambang. Namun, wajahnya sudah tercoreng karena menerima konsesi tambang batubara dari Jokowi.
Apakah ITB, mau tercoreng dengan kezaliman PIK-2? sementara, mimpi buka cabang ITB di PIK-2 hanya sekedar khayalan?
Yang patut diwaspadai, apakah NONO SAMPONO telah memberikan hadiah khusus kepada Tatacipta Dirgantara, sehingga MoU itu diteken? Kok sudah separah ini instusi pendidikan tinggi di Republik ini? ***
tags
Artikel Terkait
Java FX: Platform Trading Forex Terbaik dengan Edukasi & Teknologi MT5
Viral BMW Putih Pelat Dinas Kemhan 51692-00 Ngebut, TNI AU: Itu Palsu dan Tidak Sah
Gamis Bini Orang: Tren Baju Lebaran 2026 yang Diprediksi Viral, Harga Mulai Rp 125 Ribu
Review Polytron Fox R untuk Ojol: 200 Km Cuma Rp 10 Ribu, Benarkah?