PARADAPOS.COM - Untuk pertama kalinya, kantor pusat Sekretariat ASEAN di Jakarta menjadi tuan rumah perayaan budaya Imlek. Karnaval bertajuk "Menyambut Musim Semi dengan Kuda Perkasa, Keberkahan bagi ASEAN" digelar pada Kamis (5/2), menyongsong Tahun Kuda Api 2026. Acara ini menandai momen bersejarah di mana simbol kebersayaan Tionghoa dirayakan secara resmi di jantung organisasi regional Asia Tenggara, menarik lebih dari 250 tamu dari berbagai negara.
Pertunjukan Seni yang Menyatu
Suasana meriah langsung terasa dengan rangkaian pertunjukan seni yang memukau. Tarian tradisional China, opera Cai Diao, serta alunan musik dari erhu dan suona berhasil memikat para hadirin. Yang menarik, kolaborasi artistik lintas budaya juga ditampilkan. Alat musik etnik Guangxi, maguhu dan bole, berpadu harmonis dengan gamelan khas Indonesia dalam membawakan lagu klasik seperti "Jasmine Flower" dan "Mountain Songs Are Like the Spring River".
Kolaborasi semacam ini mendapat apresiasi tinggi dari para pengamat. Wakil Direktur Institut Studi Asia Tenggara Akademi Ilmu Sosial Guangxi, Lei Xiaohua, menjelaskan bahwa kolaborasi pertunjukan antara generasi muda China dan ASEAN sangat bermanfaat untuk memicu dan menumbuhkan semangat kreatif generasi muda ASEAN, serta mendorong pembelajaran timbal balik dan pertukaran budaya.
Pengalaman Imersif dan Teknologi
Di luar panggung, para tamu diajak merasakan pengalaman budaya yang lebih mendalam. Pameran budaya dan pasar tahun baru Imlek menawarkan aktivitas interaktif, mulai dari merasakan etiket jamuan "Teh untuk Dunia", membuat cetakan kaligrafi, menikmati seni gunting kertas, hingga mencicipi hidangan khas. Teknologi turut berperan memperkaya pengalaman. Dengan mengenakan kacamata augmented reality (AR) dan menggunakan perangkat terjemahan pintar, peserta dapat menelusuri legenda lukisan bebatuan Huashan Zuojiang secara imersif.
Acara ini juga menjadi momentum peluncuran Pekan Penayangan Video Pendek Tahun Baru Imlek China-ASEAN, sebuah inisiatif media yang menampilkan suasana perayaan dari berbagai sudut pandang.
Budaya yang Menjadi Jembatan
Keberadaan budaya Imlek di Indonesia dan kawasan ASEAN dinilai telah menjadi jembatan penghubung yang kuat. CEO Bolong Media Indonesia, Wu Chonghua, mengungkapkan bahwa budaya China memiliki fondasi yang cukup kuat di Indonesia. Jakarta sendiri memiliki komunitas etnis Tionghoa yang besar dengan suasana Imlek yang kental.
Dia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mendalami budaya China, misalnya busana Tang yang kian populer dan mulai dicoba oleh banyak orang. Bahkan, unsur gaya busana Tang kini juga terlihat dalam desain batik Indonesia.
Perspektif Diplomasi dan Masa Depan
Penyelenggaraan di Sekretariat ASEAN ini memberikan dimensi diplomatik dan simbolis yang kuat. Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menegaskan bahwa seiring waktu, Imlek telah berkembang menjadi perayaan global. Di kawasan ASEAN, banyak negara anggota merayakan Imlek, yang mencerminkan ikatan emosional lintas perbatasan yang mendalam.
Pandangan serupa disampaikan oleh Duta Besar China untuk ASEAN, Wang Qing. Dia mengatakan bahwa Imlek melambangkan kebersamaan, kegembiraan, dan keharmonisan. Merayakan Tahun Baru Imlek bersama merupakan contoh nyata kedekatan hati antara masyarakat China dan ASEAN, perpaduan peradaban, serta hidup berdampingan secara harmonis.
Duta Besar Malaysia untuk ASEAN, Sarah Al Bakri Devadason, yang negaranya menjadi koordinator hubungan China-ASEAN, menyoroti makna mendalam dari acara budaya ini. Menurutnya, perayaan budaya seperti karnaval Tahun Baru Imlek ini secara nyata menafsirkan bahwa kemitraan kedua pihak jauh melampaui perjanjian perdagangan dan etiket diplomatik.
Karnaval ini menjadi pembuka dari serangkaian kegiatan menyambut Imlek yang juga digelar di Stasiun Halim KCJB dan pusat perbelanjaan Central Park, Jakarta. Diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi dengan dukungan berbagai misi diplomatik, acara ini tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sebuah pernyataan tentang kekuatan budaya dalam merajut hubungan antar bangsa, terutama dalam menyongsong peringatan 35 tahun hubungan dialog China-ASEAN di tahun 2026.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Tembus Final Piala Asia 2026 untuk Pertama Kali
Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Signifikan, 1 Gram Anjlok Rp110.000
BMKG Imbau Waspada Hujan Petir dan Angin Kencang di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
Bank of China Gelar Forum di Medan untuk Dorong Transaksi Rupiah-Yuan