PARADAPOS.COM - Militer Israel melancarkan serangan udara yang menghancurkan sebuah gedung di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, pada Jumat (6/2/2026). Serangan ini, yang terekam dalam video, diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata, dengan tuduhan bahwa gedung tersebut merupakan fasilitas militer Hamas. Eskalasi ini terjadi di tengah laporan korban jiwa yang terus berjatuhan, memperkeruh situasi keamanan di wilayah yang sudah lama dilanda ketegangan.
Klaim Israel dan Detik-Detik Serangan
Dalam pernyataannya, pihak militer Israel secara tegas menyatakan alasan di balik serangan tersebut. Mereka menegaskan bahwa target yang dihancurkan bukanlah bangunan sipil biasa.
"Gedung yang menjadi sasaran digunakan sebagai fasilitas produksi dan penyimpanan senjata milik Hamas," jelas juru bicara militer Israel, menegaskan bahwa serangan ini merupakan tindakan balasan atas pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Video yang beredar memperlihatkan momen dramatis saat rudal menghantam struktur bangunan, menyisakan puing-puing dan debu tebal yang membubung ke langit Gaza. Meski diklaim area sekitar telah dikosongkan, dentuman ledakan itu menandai babak baru ketegangan di wilayah tersebut.
Korban Jiwa dan Situasi yang Terus Memburuk
Di sisi lain, laporan dari otoritas kesehatan di Gaza menyajikan gambaran yang suram. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat korban tewas telah mencapai angka yang mengkhawatirkan sejak gencatan senjata yang difasilitasi AS diberlakukan akhir tahun lalu.
Lebih dari 550 warga Palestina dilaporkan tewas, dengan banyak di antaranya adalah anak-anak dan bayi yang tidak berdosa. Angka ini semakin bertambah dengan eskalasi terkini, di mana dalam sepekan terakhir saja, serangan-serangan dilaporkan telah merenggut 54 nyawa.
Gencatan Senjata yang Rapuh dan Masa Depan yang Suram
Insiden di Zeitoun ini semakin menggarisbawahi kerapuhan kesepakatan gencatan senjata yang ada. Situasi keamanan di Jalur Gaza tetap tidak stabil dan penuh ketidakpastian. Setiap insiden berpotensi memicu lingkaran balas dendam yang lebih luas, menjauhkan harapan untuk perdamaian yang berkelanjutan.
Dengan klaim dan narasi yang saling bertolak belakang dari kedua pihak, warga sipil di Gaza sekali lagi terjebak di tengah-tengah, menghadapi ancaman langsung terhadap keselamatan dan nyawa mereka. Pengamat konflik menilai kondisi ini sangat rentan terhadap eskalasi lebih lanjut, menuntut kehati-hatian ekstra dan upaya diplomatik intensif untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban.
Artikel Terkait
Pemerintah Interim Venezuela Mulai Pembebasan Tahanan Politik dan Perkuat Diplomasi
PGN Catat Keterikatan Karyawan Tinggi 87,74% Dukung Target Bisnis 2026
Presiden Prabowo Hadiri Pengukuhan dan Ikrar Baiat Pengurus Baru MUI 2025-2030 di Istiqlal
LPEI Catat Laba Bersih Rp252 Miliar dan Efektif Turunkan Kredit Bermasalah pada 2025