PARADAPOS.COM - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) RI, Irene Umar, menantang stigma lama tentang birokrasi yang dianggap mematikan inovasi. Dijuluki "Sang Buldoser", mantan bankir ini bertekad merombak sistem yang kaku untuk mendorong pertumbuhan sektor kreatif lokal. Dalam wawancara eksklusif, ia mengungkap strategi ambisiusnya yang memadukan kekuatan ekonomi kreatif dengan kecerdasan buatan (AI), menargetkan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2026. Langkah ini diambil bersamaan dengan perannya sebagai Ketua Panitia Nasional Festival Harmoni Imlek Nusantara 2026.
Mengawinkan Logika Bankir dengan Semangat Kreator
Latar belakang Irene Umar di dunia perbankan membawa perspektif segar sekaligus tantangan tersendiri di meja birokrasi. Ia tidak datang dengan manual prosedur baku, melainkan dengan pendekatan analitis dan target yang terukur. Fokus utamanya adalah membuka jalan bagi talenta lokal agar tidak terhambat oleh prosedur berbelit.
Visi tersebut diwujudkan dengan upaya sistematis mengintegrasikan teknologi AI ke dalam ekosistem ekonomi kreatif. Bagi Irene, ini bukan sekadar tren, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan daya saing di kancah global.
Target 8% dan Strategi di Baliknya
Target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan untuk tahun 2026 terbilang ambisius. Namun, Irene meyakini sektor kreatif yang digerakkan oleh teknologi tepat guna mampu menjadi mesin pertumbuhan utama. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan mentransformasi potensi yang tersebar menjadi kekuatan ekonomi yang terstruktur dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pendekatannya berpusat pada pemberdayaan pelaku kreatif. "Kami ingin memastikan bahwa setiap ide brilian, setiap karya anak bangsa, mendapat ruang dan dukungan sistem untuk berkembang, bukan justru terhambat oleh birokrasi," ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Navigasi di Tengah Pusaran Politik
Pertanyaan besar mengemuka: bisakah logika efisiensi ala dunia korporasi bertahan dalam dinamika politik nasional yang kompleks? Irene Umar mengakui bahwa tantangan tersebut nyata. Dibutuhkan bukan hanya ketajaman analisis, tetapi juga kecerdasan politik dan diplomasi untuk merangkul semua pihak.
Perannya memimpin Festival Harmoni Imlek Nusantara 2026 juga dilihat sebagai bagian dari strategi kebudayaan yang lebih luas. Event berskala nasional ini diharapkan dapat memperkuat fondasi sosial sekaligus menjadi platform eksposur besar-besaran bagi produk kreatif berbasis kearifan lokal.
Di balik tekadnya yang kuat, langkah "Sang Buldoser" ini terus diawasi. Kesuksesannya tidak hanya akan diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari seberapa jauh ia mampu membawa angin perubahan dan membuktikan bahwa birokrasi bisa menjadi katalisator, bukan penghalang, bagi kemajuan.
Artikel Terkait
Suami Anggota DPRD Jateng Jadi Korban Penembakan di Pekalongan
RSUD Kota Tangerang Operasikan Cath Lab untuk Pasien JKN, Tangani Darurat Jantung dan Stroke
Polri Gelar Operasi Penertiban Truk di Jalan Tol Jawa
BMKG Prakirakan Hujan Merata dan Potensi Petir di Jakarta Siang Ini