PARADAPOS.COM - Sebuah foto yang diklaim Bareskrim Polri sebagai dokumentasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Presiden Joko Widodo pada 1985 dipertanyakan keabsahannya. Pegiat media sosial Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa mengungkapkan bahwa sosok Jokowi tidak terlihat dalam foto tersebut, bahkan lokasi pengambilan gambar disebut berbeda dengan klaim resmi. Kritik ini muncul setelah foto itu dipresentasikan oleh Dirtipidum Bareskrim pada 22 Mei 2025, memicu perdebatan publik mengenai akurasi bukti yang diajukan.
Klaim Foto KKN yang Dipertanyakan
Dokter Tifa membagikan foto tersebut melalui akun media sosialnya, Minggu (15/2/2026). Foto yang menampilkan puluhan anak muda berpose bersama itu disebut-sebut sebagai bukti partisipasi Jokowi dalam program KKN semasa kuliah.
“Ini adalah foto yang diklaim oleh BARESKRIM dan dipresentasikan Dirtipidum tanggal 22 Mei 2025, sebagai foto KKN nya Joko Widodo,” tulisnya dalam unggahan yang diamati.
Pencarian Sosok Jokowi yang Tidak Ditemukan
Setelah mengamati dengan cermat, Dokter Tifa menyatakan tidak menemukan wajah Presiden ke-7 RI di antara kerumunan anak muda dalam foto hitam putih itu. Pengamatannya memunculkan pertanyaan kritis mengenai identifikasi yang dilakukan oleh pihak berwenang.
“Pertanyaannya: JOKOWI nya manaa???? Mana JOKOWI nyaaa????” tanyanya dengan nada retoris.
Ia kemudian menyindir dengan menyebut ciri-ciri fisik yang kontras, “Yang duduk jongkok di bawah, wajah ganteng, hidung mancung, berkumis, rambut hitam tebal, badan tinggi kekar itu? Itu JOKOWI HAHAHAHAHAHAHAHA,” sambungnya.
Perbedaan Lokasi yang Menambah Keraguan
Keraguan semakin menguat dengan adanya perbedaan data lokasi. Menurut penelusuran Dokter Tifa, foto bersama itu diambil di Desa Gosono, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. Sementara itu, dalam berbagai pernyataan resmi, Jokowi sendiri mengklaim pernah melaksanakan KKN di Desa Ketoyan, yang berada di kecamatan yang sama namun desa yang berbeda.
“Udah ngaku-ngakuin foto orang ganteng, salah desa pulak,” ujarnya dengan nada sinis.
Dokter Tifa kembali mempertegas ketidakcocokan itu dengan mengulang deskripsi fisik dalam fotonya, “Dari kapan Jokowi ganteng, hidung mancung, berkumis, rambut hitam tebal, badan tinggi kekar?” imbuhnya.
Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti pentingnya verifikasi fakta dan ketelitian dalam menyajikan bukti dokumen historis, terutama ketika melibatkan figur publik. Klaim yang tidak didukung oleh penelusuran mendetail berpotensi menimbulkan kebingungan dan mengurangi kredibilitas informasi yang beredar di masyarakat.
Artikel Terkait
Analis Nilai Narasi Banteng vs Gajah Kurang Relevan, Petahana Kunci Pilpres 2029
Presiden Prabowo Undang Pakar Kritisi Kinerja Ekonomi Pemerintah
Menko Luhut Kritik Struktur OJK: Komisioner Terlalu Dominan Hambat Respons Pasar
Partai Demokrat Tolak Pilkada Lewat DPRD, Dikaitkan dengan Strategi Jangka Panjang AHY