PARADAPOS.COM - Pelatih Atalanta, Raffaele Palladino, menegaskan bahwa peluang timnya untuk melaju ke babak 16 besar Liga Champions masih terbuka, meski baru saja kalah 0-2 dari Borussia Dortmund dalam laga leg pertama play-off di Signal Iduna Park, Rabu malam. Palladino menyebut pertandingan tersebut hanyalah "babak pertama" dari duel dua pertemuan, sambil mengakui timnya memulai pertandingan dengan buruk dan harus bekerja keras di leg kedua di kandang sendiri untuk membalikkan keadaan.
Kekalahan Awal dan Tantangan di Kandang Lawan
Laga yang tertunda 15 menit akibat bus Atalanta terjebak macet langsung berjalan buruk bagi tim asal Italia itu. Dortmund dengan cepat mengambil kendali dan mencetak dua gol sebelum turun minum, melalui sundulan Serhou Guirassy di menit ketiga dan tembakan Maximilian Beier yang memperlebar jarak. Menghadapi tekanan di markas lawan dan tanpa dua pemain kunci yang cedera, situasi memang tampak sulit bagi La Dea.
Palladino: Fokus pada Pemain yang Tersedia
Meski dihantam cedera, Palladino menolak untuk berkeluh-kesah. Alih-alih membahas ketidakhadiran pemain seperti Giacomo Raspadori dan Charles De Ketelaere, ia memilih untuk berkonsentrasi pada sumber daya yang dimiliki.
"Kami tidak boleh membicarakan siapa yang tidak ada di sini, melainkan berkonsentrasi pada siapa yang bermain," tuturnya kepada Sky Sport Italia. "Sangat disayangkan kami tertinggal 1-0 sejak awal. Kami tahu Borussia Dortmund adalah tim yang sangat bagus dengan individu kuat... mereka melepaskan umpan silang dan kami tidak melakukan penjagaan dengan benar pada gol tersebut."
Ia juga mengakui kritik dari mantan pelatih, Fabio Capello, soal taktik yang digunakan. Palladino sepakat bahwa pendekatan mereka di babak pertama terlalu mudah ditebak, namun ia melihat adanya perbaikan signifikan setelah jeda.
Keyakinan untuk Balas Dendam di Bergamo
Jalan menuju babak berikutnya kini terjal. Atalanta harus menang dengan selisih minimal dua gol pada leg kedua di Gewiss Stadium, Bergamo, 25 Februari mendatang. Namun, Palladino tampak penuh keyakinan, mengandalkan atmosfer dukungan penuh dari suporter kandang sebagai faktor penentu.
"Ini baru babak pertama, babak kedua akan dimainkan di kandang kami sendiri. Sama seperti mereka menyarangkan dua gol ke gawang kami malam ini, kami juga bisa melakukan hal yang sama di Bergamo," tegasnya dengan nada optimistis.
Pelatih berusia 40 tahun itu juga mengambil pelajaran dari efisiensi mematikan Dortmund, yang mencetak dua gol dari hanya dua tembakan tepat sasaran. "Kami harus berpikir positif. Impian kami adalah lolos, dan jika kami tidak berhasil, kami akan tahu kami telah memberikan segalanya," lanjut Palladino, menutup pernyataannya dengan semangat pantang menyerah.
Momen Tegang dengan Nico Kovac Usai Laga
Pertandingan ditutup dengan insiden kecil di pinggir lapangan. Palladino memilih langsung menuju ruang ganti tanpa berjabat tangan dengan pelatih Dortmund, Nico Kovac. Ia kemudian memberikan klarifikasi atas tindakannya tersebut.
"Saya tidak suka protes, mereka mengeluh untuk setiap hal kecil di pinggir lapangan. Saya mencoba membiarkan wasit melakukan tugasnya, dalam suka maupun duka, jadi saya hanya mengatakan kepadanya bahwa dia seharusnya membiarkan wasit bekerja," ungkap Palladino, menjelaskan bahwa ketegangan itu dipicu oleh sikap staf lawan selama pertandingan berlangsung.
Kini, tugas Palladino dan skuatnya adalah memulihkan kondisi fisik dan mental dalam waktu singkat. Tekanan untuk membalikkan agregat dua gol di hadapan publik sendiri akan menjadi ujian karakter sesungguhnya bagi Atalanta dalam perburuan mimpi Liga Champions mereka.
Artikel Terkait
Vinicius Junior Bawa Real Madrid Ungguli Benfica di Play-off Liga Champions
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi di Sejumlah Wilayah
Harga Emas Batangan di Pegadaian Bervariasi Antar Merek pada 18 Februari 2026
Warga Huta Godang Sambut Ramadhan dengan Potong Sapi Bantuan di Tengah Duka Pascabencana