PARADAPOS.COM - Budayawan dan peneliti senior LIPI, Mohammad Sobary, mengungkapkan kekecewaan mendalamnya terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam sebuah wawancara podcast, pria yang dulunya dikenal sebagai pendukung setia itu menyatakan telah "berbalik 200 persen" karena merasa dikhianati oleh pemimpin yang dulu didukungnya atas dasar idealisme. Kekecewaan itu terutama dipicu oleh penanganan kasus pengungkapan dugaan ketidakjelasan ijazah S-1 Jokowi dari UGM.
Dari Dukungan Penuh Hingga Kekecewaan Mendalam
Awalnya, Sobary terpikat oleh sosok Jokowi yang dianggapnya merepresentasikan rakyat biasa. Latar belakang Jokowi yang bukan dari keluarga elit atau koruptor, bagi Sobary, adalah wujud idealisme yang layak didukung penuh. Dukungan itu diberikan karena keyakinan pada nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran yang dipersepsikan melekat pada Jokowi kala itu.
"Tiba-tiba, ada presiden dari kampung. Enggak usah ngaku pun, sema tahu di rakyat kecil. Enggak usah dikatakan miskin, dia memang miskin. Pinggir kali (sungai). Bukan dari keluarga jenderal, keluarga terkemuka. Dan, bukan keluarga koruptor. Nah, idealisme full saya persembahkan kepada beliau," kenang Sobary.
Puncak Kekecewaan: Respons Terhadap Pengungkap Ijazah
Namun, kepercayaan itu mulai luntur dan akhirnya berubah menjadi kekecewaan tajam. Titik baliknya adalah ketika Jokowi dilaporkan memolisikan sejumlah pihak yang gencar mengungkap keganjilan pada ijazah S-1-nya, seperti Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifauzia Tyassuma. Bagi Sobary, langkah ini justru mengundang tanda tanya besar.
Dengan nada geram, dia mempertanyakan logika kebijakan tersebut. "Pemimpin ditanya ijazahnya, kok malah memenjarakan orang. Ini kan edan, edan. Lah, elu kan gua bayar dengan pajak gua. Gua melarat (miskin), tapi gua bayar pajak," ungkapnya.
Dukungan pada 'Trio Macan' dan Temuan Baru
Sobary justru menyatakan kepercayaannya pada para pengungkap fakta yang dijulukinya 'trio macan'. Menurutnya, upaya mereka telah memberikan secercah cahaya yang mulai menerangi persoalan. Keyakinannya semakin kuat setelah munculnya temuan lain dari pengamat kebijakan publik, Bonatua Silalahi, yang membeberkan salinan ijazah yang digunakan Jokowi dalam proses Pilpres.
"Ada saudara kita, Bonatua menemukan bukti keras hardproof ijazah presiden pertama, itu menjadi pembuka rahasia. Di sini topeng tebal Jokowi bakal diblejeti. Ijasah tahun 19 akan membuka lapis topeng paling akhir. Terbukalah wujudnya yang sejati, wujud buto (raksasa)," tegas Sobary.
Pesan untuk Jokowi yang Tak Terkirimkan
Ketika ditanya apakah ada pesan yang ingin disampaikan kepada Jokowi, ekspresi Sobary berubah. Dengan mimik kesal yang tak tertahan, jawabannya terasa seperti titik akhir dari sebuah pengkhianatan panjang.
"Ngapain mau menyampaikan pesan, Yang dari dulu saja, begitu banyak. Berhimpun-himpun, dari diriku dan jutaan rakyat dikhianati. Mending pesan rokok atau pesan kopi, lebih jelas. Pesan kepada Jokowi, will be nothing. Nothing tidak cukup, jadi big nothing will be zero," bebernya.
Desakan untuk Melanjutkan Investigasi
Di akhir pernyataannya, Sobary mendesak agar upaya mengungkap kebenaran ijazah tersebut tidak berhenti. Dia bahkan menyiratkan perlunya pemeriksaan yang sama terhadap keluarga presiden. Pernyataannya ditutup dengan peringatan yang bernuansa moral, meyakini bahwa setiap penipuan pada akhirnya akan berbalik menghantam pelakunya sendiri.
"Kita telah dikentuti, kita kentuti dua kali. Topengnya yang tebal kita buka. Next anaknya diblejeti. Kita awam, kita di belakangnya. Dan, alam yang akan memblejetinya. Barang siapa menipu, dia akan memakan hasil tipuannya. Akan meminum air gorong-gorong penipuannya," tandasnya.
Artikel Terkait
Peneliti SMRC Peringatkan Prabowo Hentikan Praktik Weaponization of Law
Politisi PDIP Kritik Tahlilan di Rumah Jokowi sebagai Politisasi Ibadah
Koalisi Mulai Berpaling, Analis Nilai Daya Pikat Politik Jokowi Memudar
Pengamat: Prabowo Santai Hadapi Manuver Politik Jokowi karena Paham Polanya