Warga Huta Godang Sambut Ramadhan dengan Potong Sapi Bantuan di Tengah Duka Pascabencana

- Selasa, 17 Februari 2026 | 23:25 WIB
Warga Huta Godang Sambut Ramadhan dengan Potong Sapi Bantuan di Tengah Duka Pascabencana

PARADAPOS.COM - Komunitas muslim di Desa Huta Godang, Tapanuli Selatan, menunjukkan ketangguhan dengan menyambut bulan suci Ramadhan meski masih berduka pascabencana. Upaya untuk memeriahkan bulan puasa ini diwujudkan dengan memotong bersama empat ekor sapi bantuan pemerintah, sebuah kegiatan yang berlangsung di pasar desa yang masih bertahan.

Semangat Kebersamaan di Tengah Pemulihan

Suasana di Pasar Huta Godang pagi itu berbeda. Di balik bayang-bayang duka yang belum sepenuhnya sirna, terlihat semangat gotong royong yang hangat. Warga, yang sebagian besar adalah penyintas bencana, berkumpul untuk mengolah hewan kurban tersebut. Kegiatan ini bukan sekadar pembagian daging, melainkan simbol harapan dan upaya kolektif untuk mengembalikan denyut kehidupan normal di tengah proses pemulihan yang berlanjut.

Bantuan Pemerintah Diolah Secara Gotong Royong

Keempat ekor sapi yang dipotong merupakan bagian dari bantuan logistik dari pemerintah untuk meringankan beban masyarakat terdampak. Alih-alih mendistribusikan dalam bentuk mentah, warga memilih untuk mengolahnya bersama-sama. Pendekatan ini memungkinkan pembagian yang lebih merata dan sekaligus menciptakan momen silaturahmi yang erat di antara mereka, menguatkan ikatan sosial yang justru sangat dibutuhkan dalam situasi sulit.

Seorang warga yang terlibat dalam prosesi tersebut mengungkapkan makna di balik kegiatan ini. "Meski dalam suasana duka yang masih tersisa, kami berupaya memeriahkan datangnya Ramadhan," tuturnya dengan penuh keyakinan.

Ketangguhan Menyambut Bulan Suci

Langkah warga Huta Godang ini merefleksikan sebuah ketangguhan spiritual yang mendalam. Menyambut Ramadhan dengan kegiatan positif dan berbagi, meski fasilitas dan kondisi psikologis mungkin belum pulih sepenuhnya, adalah sebuah pernyataan kuat. Mereka tidak membiarkan musibah mengikis semangat beribadah dan kebersamaan. Pasar yang menjadi lokasi acara, meski sederhana, menjadi saksi bisu bagaimana kehidupan dan tradisi keagamaan terus berdenyut, menembus segala keterbatasan.

Dengan demikian, tradisi menyambut Ramadhan tahun ini di desa tersebut memiliki makna ganda: sebagai wujud syukur atas pertolongan yang datang dan sebagai bentuk resilensi komunitas untuk bangkit dan tetap merawat kegembiraan di bulan yang suci.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar