Iran Tawarkan Kerja Sama Teknologi Drone ke Indonesia, Dihadang Risiko Geopolitik

- Selasa, 17 Februari 2026 | 08:00 WIB
Iran Tawarkan Kerja Sama Teknologi Drone ke Indonesia, Dihadang Risiko Geopolitik

PARADAPOS.COM - Iran secara resmi menawarkan kerja sama pengembangan teknologi pesawat tanpa awak (drone) kepada Indonesia. Tawaran ini muncul di tengah catatan kemampuan drone Iran yang telah teruji, namun juga membawa kompleksitas geopolitik tersendiri. Pemerintah Indonesia kini dihadapkan pada pertimbangan strategis antara memanfaatkan teknologi yang diklaim maju dan terjangkau dengan memperhitungkan dampak diplomatik dari kerja sama dengan negara yang tengah berada di bawah sorotan internasional.

Portofolio dan Keunggulan Teknologi Drone Iran

Iran dikenal memiliki beragam seri drone, seperti Shahed, Mohajer, Arash, Kaman, dan Karrar, yang dikembangkan oleh perusahaan seperti Qods Aviation Industries. Keunggulan yang sering dikemukakan adalah biaya produksinya yang relatif rendah dibandingkan produk serupa dari negara Barat. Sebuah laporan, misalnya, menyebut biaya produksi drone Iran berkisar antara 35.000 hingga 40.000 dolar AS per unit, sementara produsen AS bisa mematok harga hingga 41 juta dolar AS untuk model yang dianggap sebanding. Teknologi ini tidak hanya untuk keperluan militer, tetapi juga telah dikembangkan untuk aplikasi sipil.

Jika diterima, Indonesia bukanlah mitra produksi pertama Iran di luar negeri. Pada Mei 2022, Teheran telah meresmikan pabrik drone di Tajikistan, menandai ekspansi industri pertahanannya.

Tantangan dan Risiko Geopolitik yang Menyertai

Namun, jalan kerja sama ini tidak akan mulus. Dibandingkan dengan kerja sama serupa yang sudah dijalin dengan Turki, kolaborasi dengan Iran dinilai lebih rumit. Hal ini disebabkan oleh posisi Iran yang menjadi perhatian utama negara-negara Barat, terutama terkait ekspor persenjataannya yang dianggap memengaruhi stabilitas kawasan, seperti dalam konflik di Ukraina.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Agung Nurwijoyo, mengonfirmasi bahwa kerja sama ini mengandung risiko tekanan diplomatik.

“Potensi adanya tekanan tentu ada dan sangat mungkin, meski tidak selalu secara terbuka dan frontal. Pressure by layers. Kita mungkin tidak akan dimusuhi, tapi ada ukuran ulang dari tingkat kepercayaan strategis,” ungkapnya.

Agung memperingatkan bahwa tekanan dapat melonjak drastis jika kerja sama drone itu dikaitkan langsung dengan isu pertahanan dan konflik di Timur Tengah.

“Pandangan saya, tekanan akan meningkat drastis jika drone terkait langsung dengan pertahanan atau militer dan konflik di Timur Tengah. Tentu poin terakhir ini bukan dalam konteks terseret secara militer, tapi narasi dan persepsi memfasilitasi normalisasi teknologi konflik,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya Indonesia merancang kebijakan yang jelas dan menegaskan fokus kerja sama pada bidang ekonomi dan teknologi sipil untuk memitigasi risiko tersebut.

Pernyataan Resmi dan Bidang Kerja Sama yang Diusung

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, telah menyampaikan niat negaranya untuk menjajaki kerja sama di bidang teknologi baru, termasuk drone. Dalam sebuah wawancara, Dubes Boroujerdi menyatakan bahwa negosiasi antara perusahaan kedua negara sedang diupayakan.

“Saat ini kami sedang mengupayakan kerja sama antara kedua pihak, perusahaan Iran dan Indonesia,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa teknologi drone memiliki aplikasi damai yang luas.

“Ketika kita berbicara tentang drone, biasanya kita berpikir bahwa penggunaannya hanya untuk satu hal, tetapi sebenarnya tidak. Anda tahu bahwa ada banyak sekali cara damai untuk menggunakan drone di bidang pertanian dan sektor ekonomi lainnya,” lanjutnya.

Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyatakan kesiapannya untuk menjembatani pertemuan antara pelaku usaha kedua negara.

Konteks Kerja Sama Pertahanan Indonesia dan Respons yang Masih Ditunggu

Hingga saat ini, belum ada respons resmi dari Pemerintah Indonesia terkait tawaran spesifik ini. Keputusan ini akan menjadi ujian bagi diplomasi yang berhati-hati. Sebelumnya, Indonesia telah memiliki komitmen kerja sama di bidang yang sama dengan Turki, termasuk penandatanganan joint venture untuk pembuatan pabrik drone serta pengiriman unit drone tempur Anka-S.

Di sisi lain, hubungan ekonomi bilateral RI-Iran dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang perlu diperhatikan. Data perdagangan menunjukkan nilai yang relatif moderat dengan kecenderungan menurun, sementara investasi langsung Iran di Indonesia masih terbatas. Tawaran kerja sama teknologi ini bisa menjadi upaya untuk menghidupkan dinamika hubungan bilateral di luar sektor konvensional.

Pada akhirnya, pilihan Jakarta akan mencerminkan kalkulasi strategis yang matang, menimbang antara kebutuhan teknologi, kedaulatan kebijakan luar negeri, dan posisi Indonesia di peta geopolitik global yang semakin kompleks.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar