Harga Cabai Rawit Melonjak hingga Rp200 Ribu per Kg, Picu Inflasi di 230 Daerah

- Senin, 23 Februari 2026 | 05:50 WIB
Harga Cabai Rawit Melonjak hingga Rp200 Ribu per Kg, Picu Inflasi di 230 Daerah

PARADAPOS.COM - Lonjakan harga cabai rawit merah menjadi pendorong utama kenaikan harga di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, hingga pekan ketiga bulan itu, sebanyak 230 kabupaten dan kota mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), meningkat dari 199 daerah di pekan sebelumnya. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan dimulainya intervensi pasar oleh pemerintah untuk menstabilkan pasokan dan harga.

Kontribusi Signifikan Cabai Rawit

Eskalasi harga komoditas ini tidak hanya signifikan secara nilai, tetapi juga meluas secara geografis. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi bahwa cabai rawit memberikan kontribusi yang sangat menonjol terhadap inflasi. Gejolak harganya kini telah menyentuh hampir 60 persen wilayah di Tanah Air.

Ateng Hartono menegaskan, "Cabai rawit ini mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali." Pernyataan itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara daring pada Senin, 23 Februari 2026.

Disparitas Harga yang Mengkhawatirkan

Berdasarkan catatan BPS, harga rata-rata nasional cabai rawit pada pekan kedua Februari melambung 19,89 persen menjadi Rp68.928 per kilogram dari posisi sebelumnya Rp57.492. Namun, di balik angka rata-rata tersebut, tersembunyi disparitas atau kesenjangan harga yang sangat tajam antarwilayah.

Sementara beberapa daerah masih mencatat harga sekitar Rp23.000 per kilogram, wilayah pedalaman seperti Kabupaten Nduga di Papua harus menghadapi harga yang sangat ekstrem. Ateng Hartono menambahkan, "Harga tertingginya sampai Rp200 ribu. Ini di Kabupaten Nduga." Kondisi ini menggambarkan kompleksitas tantangan logistik dan distribusi di Indonesia.

Kendala Pasokan dan Momentum Ramadan

Pemerintah mengidentifikasi hambatan pasokan di sejumlah sentra produksi sebagai akar masalah. Meski panen telah dimulai di 21 kabupaten dan kota, distribusinya belum merata ke seluruh pasar nasional. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, memberikan penjelasan lebih rinci.

Ia mengungkapkan kendala unik di sentra produksi seperti Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menjelang bulan suci Ramadan, aktivitas pemetikan di tingkat petani sempat terhenti karena faktor sosiokultural setempat. "Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan," jelas Agung. Ia memproyeksikan situasi akan kembali normal dalam satu pekan setelah puasa dimulai.

Langkah Intervensi untuk Stabilisasi

Untuk meredam volatilitas harga yang meresahkan masyarakat, pemerintah telah mengambil langkah konkret. Kementerian Pertanian, bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan, memulai aksi 'guyur pasokan' ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, sejak 19 Februari. Pasar yang berstatus sebagai barometer harga pangan nasional itu dipilih sebagai titik awal intervensi.

Skema ini melibatkan petani binaan untuk menyuplai pasokan langsung, dengan struktur harga yang dikendalikan. Harga di tingkat petani ditetapkan Rp50.000 per kilogram, kemudian Rp55.000 di pedagang pasar induk, dengan target harga konsumen akhir antara Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Dengan penguatan stok dan dimulainya puncak panen raya di berbagai sentra dalam dua pekan ke depan, pemerintah berharap tekanan inflasi dari cabai dapat segera melandai.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar