BSKDN Kuatkan Peran Analis Kebijakan sebagai Think Tank Daerah

- Rabu, 25 Februari 2026 | 13:50 WIB
BSKDN Kuatkan Peran Analis Kebijakan sebagai Think Tank Daerah

PARADAPOS.COM - Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri mempertegas komitmennya untuk mendorong kebijakan publik yang berbasis bukti dan data. Komitmen ini diwujudkan dengan memperkuat peran analis kebijakan sebagai "think tank" di tingkat daerah, sebuah langkah strategis untuk memastikan setiap keputusan pemerintah berdampak berkelanjutan dan tepat sasaran. Penegasan ini disampaikan langsung oleh Kepala BSKDN, Yusharto Huntoyungo, usai menjadi pembicara dalam sebuah lokakarya di Papua.

Peran Analis Kebijakan sebagai Pilar Utama

Dalam paparannya, Yusharto menekankan bahwa analis kebijakan adalah garda terdepan dalam merancang rekomendasi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga antisipatif. Mereka dituntut untuk mampu mengevaluasi kebijakan usang dan menyusun terobosan baru, khususnya dalam bidang inovasi dan tata kelola pemerintahan. Tujuannya jelas: menciptakan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas di tingkat daerah.

Yusharto menjelaskan, "Analis kebijakan memastikan setiap rekomendasi didukung data, analisis ilmiah, dan proyeksi dampak. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan tidak bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan dan strategis."

Instrumen Data sebagai Landasan Objektif

Untuk mendukung tugas-tugas analitis tersebut, BSKDN mengandalkan seperangkat instrumen pengukuran yang komprehensif. Instrumen ini berasal dari data primer yang dikumpulkan melalui berbagai indeks, seperti Indeks Kepemimpinan Kepala Daerah (IKKD), Indeks Tata Kelola Pemerintahan Daerah (ITKPD), Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah (IPKD), dan Indeks Inovasi Daerah (IID). Data dari indeks-indeks inilah yang menjadi fondasi objektif untuk rekomendasi kebijakan yang terukur.

“Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, BSKDN yang tadinya Litbang memiliki beberapa instrumen yang kami peroleh dari data primer hasil pengukuran berbagai indeks yang kami miliki,” ungkap Yusharto.

Belajar dari Praktik Terbaik dan Penguatan Kelembagaan

Selain data kuantitatif, Yusharto juga menyoroti pentingnya pembelajaran dari "best practices" atau praktik terbaik yang telah teruji di lapangan. Inovasi daerah yang sukses dan berdampak nyata dapat diangkat menjadi referensi kebijakan yang lebih luas, memperkaya proses pengambilan keputusan dengan bukti empiris.

Di sisi kelembagaan, penguatan peran analis kebijakan ini memiliki pondasi hukum yang kuat, merujuk pada Undang-Undang ASN dan peraturan turunannya. BSKDN bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) secara aktif melakukan pembinaan terhadap Jabatan Fungsional Analis Kebijakan, mengatur hierarki, dan membuka jalan pengembangan karier yang jelas.

Menuju Birokrasi Berkelas Dunia

Upaya sistematis ini bukanlah program insidental, melainkan bagian integral dari agenda reformasi birokrasi menuju standar kelas dunia. Dengan meningkatkan kapasitas analis kebijakan, pemerintah daerah diharapkan mampu merancang kebijakan yang lebih adaptif, progresif, dan berdampak langsung pada peningkatan pelayanan serta kesejahteraan masyarakat.

Yusharto menegaskan bahwa pembinaan akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Visinya adalah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang modern dan profesional, yang seluruh prosesnya dilandasi oleh pengetahuan dan analisis mendalam.

Dengan sinergi antara penguatan "think tank" daerah dan optimalisasi instrumen data, optimisme pun tertanam. Kebijakan publik di tingkat daerah diharapkan akan semakin efektif, mampu diukur dampaknya, dan siap menjawab kompleksitas tantangan pembangunan ke depan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar