PARADAPOS.COM - Kabar tentang kemunculan pocong yang menggedor-gedor pintu rumah warga di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi ternyata hanya rekayasa. Polisi memastikan video yang sempat membuat heboh dan meresahkan masyarakat itu adalah hoax buatan lima remaja asal Ngamprah, Bandung Barat, yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pengungkapan ini terjadi setelah aparat kepolisian melakukan penyelidikan atas laporan warga yang merasa terusik.
Penyelidikan Polisi dan Fakta di Lapangan
Teror pocong keliling ini sebelumnya membuat warga di Kecamatan Padalarang dan Ngamprah merasa tidak nyaman. Dalam rekaman yang beredar, sosok pocong tampak menggedor-gedor kaca dan pintu rumah. Namun, setelah ditelusuri, ternyata video tersebut adalah hasil manipulasi digital.
Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Teguh Kumara, menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa kelima remaja tersebut. Ia menegaskan bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi di dunia nyata.
"Ya kami bisa pastikan bahwa teror itu merupakan hoax, karena dibuat dengan AI oleh lima remaja. Kami sudah mintai keterangan dari 5 remaja asal Ngamprah itu," kata Teguh.
Motif di Balik Rekayasa Digital
Dari hasil pemeriksaan, polisi mengungkap bahwa para remaja itu tidak berniat meneror warga secara luas. Awalnya, mereka hanya ingin membuat lelucon atau prank terhadap orang tua dari salah satu pelaku.
Namun, rencana itu berubah ketika orang tua yang melihat video tersebut merasa khawatir. Tanpa mengetahui bahwa gambar itu palsu, mereka kemudian menyebarkannya ke sanak saudara. Dari sanalah konten tersebut mulai menyebar luas dengan berbagai narasi yang menyesatkan.
"Jadi niatnya buat prank dan mencari sensasi, sasarannya orangtua dari mereka juga. Cuma karena orang tua khawatir, akhirnya disebarkan lagi ke sanak saudara. Sampai akhirnya foto dan video pocong itu tersebar luas dengan berbagai narasi yang menyesatkan dan meresahkan," ujar Teguh.
Dampak dan Imbauan
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa mudahnya informasi palsu menyebar di era digital, terutama ketika melibatkan emosi seperti rasa takut. Polisi mengimbau masyarakat untuk lebih kritis dan tidak langsung menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya. Kasus ini juga menunjukkan bahwa teknologi AI, jika disalahgunakan, bisa menimbulkan keresahan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Menjelang Iduladha 2026, Harga Hewan Kurban di Maroko dan Pakistan Melonjak, Namun Permintaan Tetap Tinggi
Presiden Prabowo Tiba di Paris untuk Kunjungan Kenegaraan, Dijadwalkan Salat Idul Adha Bersama WNI
WN Brunei Tewas Dianiaya di Blok M, Sesama WN Brunei Jadi Tersangka
Warga dan Polisi Bekuk Satu Pelaku Curanmor di Depan Kampus Trisakti, Satu Kabur