Program Mastercard Strive Indonesia Lampaui Target, Jangkau 500 Ribu UMK, tapi Kesenjangan Pembiayaan Masih Jadi Tantangan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 15:00 WIB
Program Mastercard Strive Indonesia Lampaui Target, Jangkau 500 Ribu UMK, tapi Kesenjangan Pembiayaan Masih Jadi Tantangan

PARADAPOS.COM - Program Mastercard Strive Indonesia, sebuah inisiatif bersama Mastercard Center for Inclusive Growth dan Mercy Corps Indonesia, berhasil melampaui target dengan menjangkau lebih dari 500.000 pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Pencapaian ini diumumkan bersamaan dengan peluncuran laporan tahunan ketiga yang mengungkap tantangan kritis yang masih dihadapi sektor UMK, terutama menyangkut kesenjangan akses pembiayaan formal.

Dampak Nyata di Lapangan: Dari Pembiayaan hingga Adopsi Digital

Dalam perjalanannya, program ini tidak hanya sekadar mencapai angka. Dampak utamanya terlihat dalam beberapa aspek kunci. Pertama, dari sisi pembiayaan, program telah memfasilitasi pinjaman mikro senilai Rp140 miliar untuk 26.500 pelaku usaha, dengan 97% di antaranya adalah usaha milik perempuan.

Kedua, lebih dari 200.000 pengusaha mendapat pendampingan digital, dan lebih dari 100.000 di antaranya mengadopsi perangkat keamanan siber. Hasilnya cukup terukur: 56% peserta melaporkan peningkatan pendapatan, sementara 30% lainnya merasa lebih percaya diri dalam mengakses kredit.

Laporan Barometer 2025: Kesenjangan Pembiayaan yang Masih Melebar

Namun, di balik capaian tersebut, laporan "Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2025" justru menyoroti tren yang mengkhawatirkan. Pengambilan kredit formal oleh UMK terus menurun drastis, dari 33% pada 2023 menjadi hanya 20% pada 2025.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa banyak pengusaha, termasuk perempuan yang memiliki kepemilikan usaha kuat, masih bergantung pada pinjaman informal. Hambatannya beragam, mulai dari suku bunga tinggi, persyaratan jaminan, hingga faktor budaya dan kehati-hatian finansial.

“Di Mastercard, inovasi bukan hanya tentang teknologi—tetapi tentang membuka peluang dalam skala besar,” ujar Aileen Goh, Country Manager Indonesia untuk Mastercard.

“Usaha mikro dan kecil di Indonesia membentuk fondasi ekonomi yang tangguh, namun banyak yang masih kurang terlayani oleh keuangan formal. Melalui Mastercard Strive Indonesia, kami menggabungkan wawasan data, perangkat digital, dan kemitraan ekosistem untuk membantu membangun sistem keuangan yang lebih aman dan inklusif—sistem yang memungkinkan para pengusaha untuk tumbuh secara berkelanjutan,” jelasnya.

Pelajaran Penting: Modal Saja Tidak Cukup

Pengalaman selama tiga tahun ini memberikan pelajaran berharga. Akses modal ternyata harus diiringi dengan kapasitas pengelolaannya. Laporan menunjukkan bahwa 74% pengusaha tidak terlibat dengan layanan pendukung bisnis. Padahal, mereka yang mendapatkan pendampingan non-finansial justru lebih mungkin mengalami pertumbuhan pendapatan.

Pendekatan Mastercard Strive yang memanfaatkan mentor lokal dan platform digital seperti MicroMentor terbukti efektif. Kisah Halim, pemilik toko pakaian di Purwakarta, adalah contoh nyata. Ia baru berhasil mendapatkan pinjaman Rp20 juta setelah dibimbing oleh mentor lokal, Dedeh, yang tidak hanya membantu administrasi tetapi juga memulihkan kepercayaan dirinya dalam berbisnis.

“Akses saja tidak cukup. Pengusaha membutuhkan dukungan yang relevan, tepercaya, dan praktis,” tegas Ade Soekadis, Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia.

“Melalui kolaborasi kuat di balik Mastercard Strive, yang telah memberdayakan lebih dari 500.000 pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia, kami membantu membangun ekosistem di mana para pengusaha dapat tumbuh dengan keyakinan dan ketangguhan. Upaya kolektif ini mencerminkan misi Mercy Corps Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih aman, inklusif, produktif, dan adil,” lanjutnya.

Kunci Keberhasilan: Kolaborasi Multipihak yang Solid

Keberhasilan program di berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan tidak lepas dari penyelarasan dengan tujuan pemerintah daerah dan peran fasilitator komunitas. Kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat menjadi fondasi utama.

“Penguatan usaha mikro dan kecil memerlukan tindakan yang konkret dan terkoordinasi yang memberikan hasil di lapangan,” ungkap Ferry Irawan, Deputi I Bidang Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Program ini menunjukkan bagaimana kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan mitra pembangunan dapat memperluas akses ke pembiayaan, meningkatkan kapabilitas digital, dan memperkuat sistem pendukung bagi para pengusaha,” tuturnya.

Subhashini Chandran, Senior Vice President Social Impact untuk kawasan APEMEA di Mastercard Center for Inclusive Growth, menambahkan analisis mengenai tantangan ke depan.

“Laporan Barometer ini menunjukkan sebuah momen penting: usaha kecil di Indonesia beralih ke digital lebih cepat daripada perkembangan kapabilitas mereka. Kesenjangan dalam kesadaran AI, keamanan digital, dan akses dukungan bisnis berisiko semakin melebar jika tidak ditangani secara kolektif,” paparnya.

“Tiga tahun terakhir telah menunjukkan bahwa ketika penyelarasan pemerintah bertemu dengan inovasi sektor swasta dan kepercayaan tingkat komunitas, kita dapat membangun ekosistem UMK yang lebih kuat dan siap menghadapi masa depan. Itulah jalan menuju ketahanan ekonomi jangka panjang yang inklusif,” pungkas Subhashini Chandran.

Ke depan, komitmen untuk memperkuat UMK tetap diutamakan dengan pendekatan yang berfokus pada dampak berkelanjutan. Keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari jumlah yang terjangkau, melainkan dari seberapa efektif dukungan tersebut diterapkan dan peningkatan nyata yang dirasakan oleh para pengusaha di lapangan.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar