PARADAPOS.COM - Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memproyeksikan gelombang perjalanan mudik dan balik Lebaran 2026 akan melibatkan sekitar delapan juta pergerakan orang keluar dan masuk wilayah provinsi tersebut. Estimasi yang mencakup seluruh kabupaten dan kota ini disusun berdasarkan analisis pola lalu lintas di jalur-jalur utama serta pengalaman operasional selama periode liburan sebelumnya.
Analisis Berbasis Data dan Pengalaman Lapangan
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menjelaskan bahwa angka proyeksi tersebut bukanlah sekadar perkiraan, melainkan hasil kajian mendalam terhadap dinamika di koridor-koridor vital. Kawasan seperti Prambanan, Jalan Godean, dan Jalan Wates, beserta berbagai rute alternatif yang lazim dilintasi pemudik, menjadi dasar perhitungan.
“Kurang lebih sekitar delapan juta mobilitas di seluruh DIY,” tuturnya dalam keterangan resmi, Jumat (27 Februari 2026).
Menyadari besarnya tantangan, pihaknya akan kembali menggencarkan sosialisasi sejumlah jalur alternatif. Langkah ini diharapkan dapat mendistribusikan volume kendaraan lebih merata, sehingga tekanan dan risiko kemacetan parah di satu titik tertentu dapat diredam.
Belajar dari Pola Liburan Sebelumnya
Chrestina menyebut pola pergerakan pada Lebaran mendatang diperkirakan akan menyerupai arus libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Yang menarik, evaluasi mendetail dari periode Nataru justru mengungkap fakta lapangan yang sedikit di luar prediksi awal.
“Kemarin kita perkirakan Prambanan yang padat, ternyata bukan. Banyak pengendara menghindari tol karena tarifnya cukup tinggi,” ungkapnya.
Fenomena itu menyebabkan kepadatan tertinggi justru bergeser ke Kecamatan Tempel di Kabupaten Sleman. Temuan ini menjadi catatan krusial dan bahan pertimbangan utama dalam menyusun strategi antisipasi untuk musim mudik tahun depan.
Strategi Terintegrasi dan Teknologi Pendukung
Untuk mengantisipasi lonjakan yang masif tersebut, Dishub DIY tidak bekerja sendiri. Koordinasi yang erat dengan Polda DIY dan berbagai pemangku kepentingan terkait akan diperkuat. Rencana rekayasa lalu lintas pun telah disiapkan, termasuk penyesuaian durasi lampu lalu lintas di persimpangan-persimpangan yang berpotensi menimbulkan penumpukan kendaraan.
Pemantauan akan dilakukan secara real-time melalui sistem back office Smart Province yang terintegrasi dengan pusat kendali kepolisian. Pendekatan berbasis teknologi ini diharapkan dapat memberikan respons yang lebih cepat dan akurat terhadap kondisi di lapangan.
“Kami bersama kepolisian dan stakeholder lain akan melakukan rekayasa lalin. Durasi ‘traffic light’ di titik-titik padat akan diperpanjang sesuai kebutuhan,” jelas Chrestina.
Dengan kombinasi antara pembelajaran dari data historis, koordinasi antar-lembaga, dan pemanfaatan teknologi, otoritas setempat berupaya memitigasi dampak kemacetan agar perjalanan mudik masyarakat bisa berlangsung lebih lancar dan aman.
Artikel Terkait
Mahasiswa UIN Suska Riau Jadi Tersangka Bacok Mahasiswi Usai Cintanya Ditolak
Polsek Pakal Gelar Buka Puasa Bersama Warga dan Komunitas untuk Pererat Silaturahmi
Adira Finance Catat Pembiayaan Syariah Rp9,8 Triliun pada 2025
Virgoun Resmi Menikahi Lindi Fitriyana di Gading Serpong