28 Februari dalam Catatan Sejarah: Perang, Tragedi, dan Titik Balik Bangsa-Bangsa

- Jumat, 27 Februari 2026 | 22:00 WIB
28 Februari dalam Catatan Sejarah: Perang, Tragedi, dan Titik Balik Bangsa-Bangsa

PARADAPOS.COM - Tanggal 28 Februari tercatat dalam sejarah dunia sebagai hari yang diwarnai oleh berbagai peristiwa besar, dari pertempuran laut yang menentukan, tragedi politik berdarah, hingga bencana alam yang memilukan. Rentetan peristiwa ini, yang terjadi di berbagai belahan dunia dan lintas zaman, membentuk mosaik sejarah yang kompleks, mengingatkan kita pada pergolakan kemanusiaan, perjuangan politik, dan kerentanan kita terhadap alam.

Pertempuran Sengit di Selat Sunda

Pada malam tanggal 28 Februari hingga 1 Maret 1942, Selat Sunda yang gelap menjadi saksi bisu sebuah pertempuran laut sengit di masa Perang Dunia II. Kapal penjelajah USS Houston milik Amerika Serikat dan HMAS Perth milik Australia, yang sedang berusaha menyelamatkan diri, bertemu dengan pasukan utama Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Pertempuran tak seimbang itu berakhir tragis bagi kedua kapal Sekutu.

USS Houston dan HMAS Perth akhirnya tenggelam ke dasar selat. Korban jiwa dari pihak Sekutu sangat besar: 696 awak Houston dan 375 awak Perth tewas. Meski memenangkan pertempuran, Jepang juga kehilangan dua kapalnya, dengan jumlah korban yang tidak pernah dipublikasikan secara resmi. Kemenangan ini semakin memperkuat cengkeraman Jepang di kawasan Asia Tenggara pada masa itu.

Luka Politik: Insiden 228 di Taiwan

Sementara di Asia, sebuah tragedi politik dengan dampak berkepanjangan terjadi di Taiwan. Pada 28 Februari 1947, ketegangan antara penduduk lokal dan pemerintahan Kuomintang yang baru tiba meletus menjadi pemberontakan dan penindasan brutal. Peristiwa yang dikenal sebagai Insiden 228 ini meninggalkan luka yang dalam.

Estimasi korban jiwa warga sipil sangatlah luas, berkisar antara 5.000 hingga 28.000 orang. Peristiwa ini kemudian membuka babak baru yang kelam, yaitu masa "Teror Putih", di mana puluhan ribu orang lainnya ditangkap, dipenjara, atau hilang tanpa jejak. Banyak analis sejarah melihat insiden ini sebagai titik tolak signifikan bagi munculnya gerakan kemerdekaan Taiwan di kemudian hari.

Bibit Kemerdekaan di Gold Coast

Di benua Afrika, sebuah insiden berdarah justru menjadi katalis bagi kebebasan. Pada 28 Februari 1948, di Accra, ibu kota koloni Inggris Gold Coast (kini Ghana), aparat kepolisian Inggris membubarkan unjuk rasa damai yang dilakukan para veteran perang. Situasi cepat memanas dan berujung pada tembakan.

Tiga orang tewas dalam insiden itu, termasuk Sersan Nii Adjetey. Kematian mereka tidak sia-sia, karena kemarahan publik yang meluas pasca-insiden ini mendorong perlawanan terhadap kolonialisme. Peristiwa ini dianggap sebagai pemicu utama yang mempercepat proses kemerdekaan Gold Coast, yang akhirnya menjadi Ghana—negara Afrika pertama yang merdeka dari penjajahan Inggris.

Tragedi di Bawah Tanah London

Dari konflik politik, kita beralih ke sebuah musibah transportasi yang mengguncang London. Pada pagi hari 28 Februari 1975, tepatnya pukul 08.46, sebuah kereta bawah tanah memasuki Stasiun Moorgate dengan kecepatan tinggi dan sama sekali tidak melambat. Kereta itu menerobos melewati peron dan menabrak dinding batu di ujung terowongan dengan hebatnya.

Kecelakaan maut itu menewaskan 43 penumpang dan pekerja stasiun, serta melukai 74 orang lainnya. Upaya penyelamatan sangat sulit karena kondisi gerbong yang hancur dan terjepit. Tragedi Moorgate hingga hari ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan kereta bawah tanah terburuk dalam sejarah ibu kota Inggris tersebut, dengan penyebabnya yang masih menjadi bahan perdebatan.

Misteri Pembunuhan Perdana Menteri Swedia

Malam tanggal 28 Februari 1986 di Stockholm berubah menjadi malam kelam bagi demokrasi Swedia. Perdana Menteri Olof Palme, seorang figur internasional yang vokal, sedang berjalan pulang bersama istrinya, Lisbeth, setelah menonton film di bioskop. Tanpa pengawalan, di tengah jalanan kota, nasib buruk menimpanya.

Seseorang mendekat dan melepaskan tembakan. Olof Palme tewas di tempat kejadian, sementara istrinya selamat meski terluka. Pelaku kemudian menghilang begitu saja dalam kegelapan. Hingga puluhan tahun kemudian, kasus pembunuhan ini tetap menjadi salah satu misteri kriminal paling besar di abad ke-20 yang belum terpecahkan tuntas, meninggalkan berbagai teori konspirasi.

Berakhirnya Perang Teluk Pertama

Di kancah global, tanggal 28 Februari 1991 menandai berakhirnya sebuah konflik besar modern. Perang Teluk I, yang dimulai sejak invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990, secara resmi dihentikan setelah koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat mencapai tujuan militernya.

Setelah kampanye udara dan darat yang masif, Kuwait berhasil dibebaskan. Korban jiwa dari kedua belah pihak sangat tidak seimbang: sekitar 378 tentara koalisi gugur, sementara perkiraan korban di pihak Irak mencapai 25.000 orang. Meski perang besar berakhir, ketegangan di kawasan itu sama sekali tidak reda.

Gempa Mematikan di Iran Utara

Alam juga menunjukkan kekuatannya yang dahsyat pada tanggal yang sama. Tepat pada pukul 12.57 waktu setempat, 28 Februari 1997, gempa berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang wilayah utara Iran, berpusat dekat Kota Ardabil. Guncangan yang hanya berlangsung sekitar 15 detik itu cukup untuk menimbulkan kehancuran luas.

Bencana itu merenggut nyawa sekitar 1.100 orang, melukai 2.600 lainnya, serta menghancurkan 12.000 rumah. Tidak hanya itu, sektor pertanian dan peternakan setempat juga lumpuh dengan matinya 160.000 ternak. Gempa ini menjadi pengingat betapa rapuhnya permukiman manusia di daerah rawan seismik.

Kerusuhan Komunal di Gujarat

Awal milenium baru tidak serta-merta mengakhiri konflik antarkelompok. Pada Februari 2002, Gujarat, India, dilanda kerusuhan komunal terburuk dalam beberapa dekade. Pemicunya adalah insiden pembakaran Kereta Sabarmati Express di Godhra pada 27 Februari yang menewaskan 58 peziarah Hindu.

Kemarahan yang meledak kemudian berubah menjadi kekerasan balasan yang menyasar komunitas Muslim. Kerusuhan yang berlangsung berhari-hari itu menelan korban jiwa yang sangat besar, dengan angka resmi menyebutkan 790 warga Muslim dan 254 warga Hindu tewas. Peristiwa ini meninggalkan trauma kolektif dan ketegangan sosial yang dalam di wilayah tersebut.

Gelombang Teror di Irak Pasca-Invasi

Dalam konteks konflik yang berbeda, Irak pasca-invasi 2003 menghadapi gelombang ketidakstabilan dan kekerasan. Pada 28 Februari 2005, sebuah taktik yang kelak menjadi simbol kekerasan di era itu terjadi: bom bunuh diri. Seorang pelaku meledakkan dirinya di tengah kerumunan di pusat rekrutmen kepolisian di Al Hillah.

Ledakan itu menewaskan dua polisi dan melukai sembilan warga sipil. Insiden ini bukanlah yang pertama atau terakhir, melainkan bagian dari rangkaian serangan terkoordinasi yang ditujukan untuk menggoyahkan institusi negara baru dan menebar ketakutan di tengah masyarakat Irak yang sedang mencoba bangkit.

Dari medan perang, pusat politik, hingga pusat rekrutmen, setiap peristiwa pada 28 Februari ini membawa cerita dan konsekuensinya sendiri, membentuk tapal batas dalam narasi sejarah dunia yang terus dikenang dan dipelajari.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar