Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel, Indonesia di Posisi Sentral

- Senin, 02 Maret 2026 | 22:50 WIB
Iran Desak D-8 Kutuk Serangan AS-Israel, Indonesia di Posisi Sentral

PARADAPOS.COM - Pemerintah Iran mendesak negara-negara anggota Developing-8 (D-8) untuk secara tegas mengutuk serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada akhir Februari lalu. Desakan diplomatik ini disampaikan di Jakarta, menyusul eskalasi militer yang telah mengubah peta kekuasaan di Teheran dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Desakan tersebut menempatkan Indonesia, selaku tuan rumah KTT D-8 mendatang, pada posisi sentral dalam merespons krisis ini.

Seruan Diplomatik di Jakarta

Dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Senin (2/3/2026), Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, secara langsung menyampaikan permintaan tersebut. Momentumnya strategis, mengingat Indonesia akan memimpin Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kelompok delapan negara berkembang itu dalam waktu dekat. Boroujerdi menekankan harapannya agar forum D-8 dapat mengambil sikap yang jelas dalam peristiwa bersejarah ini.

“Tahun ini Republik Indonesia menyelenggarakan KTT D-8, dan kami ingin D-8 berdiri pada sisi yang benar dari sejarah dan memberikan kutukan yang serius terhadap penyerangan yang terjadi kepada negara kami,” tutur Dubes Boroujerdi.

Kutukan sebagai Langkah Awal

Menurut diplomat senior itu, sikap kuat dan tegas dari organisasi semacam D-8 bukanlah hal yang sekadar simbolis, melainkan sebuah keharusan moral dan politik. Ia menegaskan bahwa kutukan kolektif atas apa yang disebutnya sebagai agresi merupakan prasyarat untuk langkah-langkah berikutnya.

“Kami ingin agar organisasi penting ini secara kuat dan tegas memberikan kutukan kepada penyerangan yang terjadi oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap negara kami,” tegasnya.

Lebih lanjut, Boroujerdi menjelaskan posisi pemerintahnya. “Kutukan yang keras dan serius adalah langkah pertama. Setelah kutukan disampaikan, kami baru bisa mengambil ke langkah berikutnya,” jelasnya.

Dampak Serangan dan Eskalasi

Seruan ini tidak datang dari ruang hampa. Perang terbuka antara Iran dan aliansi AS-Israel pecah pada Sabtu, 28 Februari 2026, diawali oleh serangan udara skala besar yang menyasar jantung ibu kota Teheran. Operasi militer gabungan tersebut dilaporkan berhasil melumpuhkan struktur komando Iran dengan dampak yang sangat fatal, termasuk menewaskan sejumlah tokoh kunci pemerintahan dan pemimpin tertinggi negara, Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran dikabarkan telah melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta beberapa negara di kawasan Teluk. Gelombang serangan balik ini semakin memperkeruh situasi dan mengancam stabilitas regional yang lebih luas.

Posisi Strategis D-8 dan Peran Indonesia

Dalam konteks inilah peran D-8 menjadi sorotan. Organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, serta Azerbaijan (yang baru bergabung akhir 2024) ini, kini dihadapkan pada ujian solidaritas di luar isu ekonomi. Sebagai Ketua D-8, Indonesia mengusung tema besar tentang penguatan kesetaraan dan solidaritas negara-negara Global South.

Semangat itu rencananya akan diwujudkan dalam KTT ke-12 di Jakarta pada April 2026. Pertemuan puncak tersebut tidak hanya dirancang untuk membahas penguatan kerja sama ekonomi dan investasi, tetapi juga dipandang sebagai panggung diplomasi kemanusiaan yang krusial. Desakan Iran ini, dengan demikian, telah menambahkan agenda mendesak yang penuh muatan politik ke dalam helatan yang sedianya berfokus pada pembangunan ekonomi bersama.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar