PARADAPOS.COM - Suami dari seorang anggota DPRD Jawa Tengah, Amat Muzakhin alias Boim (36), nyaris menjadi korban penembakan di depan rumahnya di Pekalongan, Sabtu (15/2/2026) malam. Dalam keterangannya, Boim secara mengejutkan menuding seorang oknum anggota DPR RI sebagai dalang di balik aksi teror tersebut, yang diduga terkait dengan kasus penculikan seorang pedagang martabak yang sedang ia dampingi. Polda Jawa Tengah telah menempatkan pengawalan 24 jam untuk melindungi korban sambil mendalami semua kemungkinan motif kejadian ini.
Dugaan Keterkaitan dengan Kasus Penculikan Pedagang Martabak
Di balik peristiwa penembakan yang mencekam itu, terselip dugaan motif yang melibatkan kasus hukum yang sedang berjalan. Boim, yang juga dikenal sebagai aktivis sosial, meyakini aksi teror tersebut merupakan bentuk intimidasi atas kasus dugaan penculikan seorang pedagang martabak yang penanganannya sedang berproses di Polda Jawa Tengah. Ia menyatakan memiliki sejumlah petunjuk yang mengarah pada keterlibatan oknum tertentu di parlemen.
"Keyakinan saya besar. Kasus yang saya dampingi adalah penculikan pedagang martabak yang menurut hemat saya, dalangnya oknum DPR RI itu. Kami punya petunjuk bukti dan keterangan dari korban," tegas Boim.
Sebelum peristiwa penembakan terjadi, Boim mengungkapkan bahwa dirinya lebih dulu menjadi sasaran pembunuhan karakter. Ia dituding melakukan pemerasan agar kasus yang ia kawal tersebut dihentikan.
"Saya dianggap mau memeras supaya peristiwa ini mandek. Ya, oknum DPR RI itu," imbuhnya, menyebutkan tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Detik-Detik Mencekam di Teras Rumah
Kronologi kejadian berawal usai Boim pulang dari kegiatan penyaluran bantuan banjir di Wonokerto, Pekalongan. Suasana sore yang tenang di teras rumahnya berubah drastis sekitar pukul 20.30 WIB. Saat itu, Boim sedang berbincang dengan dua rekannya.
Seorang pria tak dikenal tiba-tiba memasuki halaman rumah mengendarai motor matik hitam. Pelaku, yang mengenakan jaket kulit, helm, dan masker penutup wajah, sempat memutar balik kendaraannya. Gerakan itu diikuti dengan sebuah tindakan yang membekukan darah: moncong senjata diarahkan ke arah Boim.
"Saya berhadap-hadapan langsung dengan senjata itu. Jaraknya sekitar 10 meter," kenang Boim tentang momen yang hampir merenggut nyawanya itu.
Beruntung, tembakan yang dilepaskan pelaku meleset dari sasaran. Meski rekannya berniat mengejar, Boim mencegahnya dengan pertimbangan keselamatan mengingat pelaku masih membawa senjata api.
Langkah Antisipasi dan Penyelidikan Kepolisian
Merespons insiden serius ini, aparat kepolisian bergerak cepat. Kapolres Pekalongan, AKBP Rachmad C. Yusuf, turun langsung memimpin olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) hingga dini hari untuk mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi. Sebagai bentuk perlindungan, Polres Pekalongan kini menempatkan personel untuk berjaga 24 jam di kediaman Boim dan keluarganya.
Dalam pernyataannya, Kapolres menekankan sikap hati-hati dan profesional dalam penyelidikan. "Kami tidak akan berspekulasi. Semua kemungkinan sedang kami dalami," ujar AKBP Rachmad.
Kasus ini telah menarik perhatian luas karena menyeret nama pejabat publik tingkat tinggi dalam dugaan keterlibatannya. Di tengah ancaman yang masih membayangi, Boim menyatakan tekadnya untuk tidak mundur. Ia berkomitmen terus mengawal proses hukum kasus penculikan yang ditanganinya hingga tuntas, meski nyawanya menjadi taruhannya.
Artikel Terkait
GP Ansor Gelar Perayaan Imlek, Tegaskan Harmoni Budaya dan Keimanan
Orang Tua Laporkan Penyebaran Video Mesum Remaja di Rental PlayStation Tabanan
Tips Puasa Aman untuk Penderita Maag: Atur Pola Makan dan Hindari Pemicu
Pemerintah Tetapkan Awal Puasa Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026