PARADAPOS.COM - Iran secara tegas membantah klaim Amerika Serikat yang menyatakan kemampuan angkatan lautnya telah dihancurkan. Dalam perkembangan terkini yang memperdalam ketegangan di kawasan, juru bicara militer Iran bahkan menantang Presiden AS Donald Trump untuk mengirim kapal perang ke Teluk Persia. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel akhir Februari lalu, yang menurut laporan menewaskan ribuan orang termasuk pemimpin tertinggi Iran.
Bantahan dan Tantangan Terbuka
Melalui juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini, pemerintah Iran menampik keras narasi yang dibangun oleh Washington. Naini menegaskan bahwa kendali atas perairan vital di kawasan justru sepenuhnya berada di tangan Iran. Pernyataan ini sekaligus menjadi sanggahan langsung terhadap klaim Presiden Trump sebelumnya.
“Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah pengelolaan Angkatan Laut IRGC dan Iran memiliki kedaulatan penuh,” tegas Naini, seperti dikutip dari laporan kantor berita Anadolu, Senin (16 Maret 2026).
Lebih lanjut, dengan nada menantang, sang jenderal menyoroti kontradiksi dalam pernyataan pihak AS. “Bukankah Trump mengatakan bahwa ia telah menghancurkan Angkatan Laut Iran? Jika berani, dia bisa mengirim kapalnya ke kawasan Teluk Persia,” ujarnya.
Klaim Serangan dan Syarat Akhir Perang
Dalam paparannya, Naini juga mengungkapkan klaim operasi militer skala besar yang telah dilakukan Iran sebagai bentuk pembalasan. Ia menyebutkan bahwa Teheran telah meluncurkan ratusan rudal dan ribuan drone yang menargetkan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Mengenai jalan keluar dari konflik yang sedang berlangsung, Naini memberikan syarat yang jelas. Ia menegaskan bahwa perang hanya akan berakhir ketika pihak yang disebutnya sebagai “musuh” mengakui kekuatan militer dan kemampuan penangkal Iran. “Kami berusaha menghukum pihak agresor dan akan terus melanjutkan serangan berat dan destruktif terhadap musuh,” tambahnya, mempertegas posisi ofensif yang diambil oleh Iran.
Latar Belakang Eskalasi dan Dampaknya
Gelombang permusuhan ini berawal dari serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut, yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan termasuk Ayatollah Ali Khamenei, memicu siklus balas dendam yang masif.
Iran membalas dengan melancarkan serangan drone dan rudal tidak hanya ke Israel, tetapi juga ke Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Langkah strategis lain yang berdampak global adalah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran sejak awal Maret. Tindakan ini langsung berimbas pada pasar energi dunia, mengingat selat tersebut merupakan jalur pelayaran paling kritis untuk pengiriman minyak mentah.
Situasi ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan, di mana setiap klaim dan tindakan militer berpotensi memperlebar konflik dan mengganggu pasokan energi global. Pernyataan-pernyataan dari kedua belah pihak terus memperdalam ketegangan, dengan risiko eskalasi yang masih sangat terbuka.
Artikel Terkait
Pemimpin Tertinggi Iran Dievakuasi ke Rusia untuk Operasi Darurat
DJ Bravy Tato Nama Anak Mantan, Erika Carlina: Syok, Tapi Terharu
Psikolog Ingatkan Memaafkan di Idulfitri Harus Tulus, Bukan Sekadar Formalitas
Ustadz Maulana Ungkap Perjuangan Menjaga Kesalehan sebagai Duda Selama 7 Tahun