USTDA Danai Proyek Percontohan Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Dieng

- Selasa, 17 Maret 2026 | 10:25 WIB
USTDA Danai Proyek Percontohan Ekstraksi Litium dari Panas Bumi di Dieng

PARADAPOS.COM - Badan Perdagangan dan Pembangunan Amerika Serikat (USTDA) akan mendanai proyek percontohan teknologi ekstraksi litium dari sumber panas bumi di Indonesia. Proyek ini merupakan upaya konkret untuk mendiversifikasi rantai pasokan mineral kritis global sekaligus menguji kelayakan komersial metode baru pengolahan litium yang lebih ramah lingkungan. Kerja sama ini melibatkan perusahaan teknologi AS, Lilac Solutions, dan BUMN Indonesia, PT Geo Dipa Energi (GDE), yang akan menerapkan teknologi tersebut di lapangan panas bumi Dieng, Jawa Tengah.

Teknologi AS untuk Potensi Litium Indonesia

Proyek percontohan ini menandai tonggak penting, karena fasilitas di Dieng akan menjadi yang pertama di Indonesia yang mengekstraksi litium dari air panas bumi. Lilac Solutions akan mendemonstrasikan teknologi pengolahan litium langsung berbasis pertukaran ion di lokasi operasi Geo Dipa. Metode ini digadang-gadang sebagai cara yang lebih efisien dan bertanggung jawab secara lingkungan untuk memurnikan litium menjadi litium karbonat berkualitas baterai, tanpa mengganggu operasi pembangkit panas bumi yang sudah berjalan.

Dukungan USTDA tidak hanya terbatas pada pendanaan percontohan. Lembaga pemerintah AS itu juga akan berperan sebagai penghubung strategis, memperkenalkan GDE kepada calon pembeli litium karbonat di pasar Amerika. Hal ini dirancang untuk membuktikan skalabilitas dan daya tarik komersial proyek, sehingga dapat menarik investasi lebih besar untuk ekspansi di masa depan.

Dampak Strategis bagi Kemandirian Energi

Bagi Indonesia, inisiatif ini bukan sekadar proyek percobaan. Pihak Geo Dipa Energi melihatnya sebagai langkah strategis menuju kemandirian pasokan litium, komponen kunci untuk industri baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi nasional yang sedang berkembang.

Direktur Utama GDE, Yudistian Yunis, menekankan nilai tambah dari pemanfaatan sumber daya yang sudah ada. "Litium secara alami terkandung dalam air panas bumi yang sudah menjadi bagian dari operasi panas bumi yang ada, sehingga kami dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Yudistian menjelaskan bahwa kemitraan ini dirancang sebagai kerangka saling menguntungkan. "Dukungan USTDA berperan sebagai katalis dengan mempercepat akses terhadap inovasi dan keahlian Amerika, sekaligus memfasilitasi koneksi dengan calon pembeli asal AS," tambahnya.

Memperkuat Rantai Pasok Global yang Tangguh

Dari perspektif Amerika Serikat, proyek ini merupakan bagian dari upaya membangun rantai pasok mineral kritis yang lebih tangguh dan terdesentralisasi. Teknologi AS diuji di wilayah dengan potensi sumber daya yang besar, sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dan energi dengan mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Wakil Direktur USTDA, Thomas R. Hardy, menyoroti nilai strategis kolaborasi ini. "Proyek ini menyoroti nilai solusi AS dalam membangun rantai pasok yang tangguh dan mendorong pengembangan sumber daya yang bertanggung jawab bersama mitra kami di Indonesia," jelasnya.

Pandangan senada disampaikan oleh CEO Lilac Solutions, Raef Sully, yang melihat peluang besar di Indonesia. "Lapangan panas bumi Indonesia memiliki potensi litium yang besar dan belum dimanfaatkan, dan proyek ini akan membuktikan bahwa teknologi pertukaran ion Amerika dapat mengoptimalkannya secara bertanggung jawab dan berskala besar," ujarnya.

Jika berhasil, demonstrasi teknologi ini tidak hanya akan membuka aliran investasi baru, tetapi juga dapat menjadi model bagi pemanfaatan sumber daya panas bumi di seluruh Indonesia, mengubahnya dari sekadar penghasil listrik terbarukan menjadi penghasil material strategis untuk transisi energi global.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar