1.500 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel Sepanjang 2026, Muara Enim Catat Hotspot Tertinggi

- Senin, 15 Juni 2026 | 17:25 WIB
1.500 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel Sepanjang 2026, Muara Enim Catat Hotspot Tertinggi
PARADAPOS.COM - Sebanyak 1.500 titik panas (hotspot) terdeteksi di Sumatra Selatan selama periode 1 Januari hingga 14 Juni 2026. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan ini menunjukkan konsentrasi tertinggi berada di sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lonjakan signifikan terjadi pada Mei lalu, dengan total 708 titik panas, dan tren ini masih berlanjut hingga pertengahan Juni.

Muara Enim Catat Hotspot Tertinggi

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan ini sebagai bagian dari upaya deteksi dini. “Berdasarkan data pemantauan hingga 14 Juni 2026, jumlah hotspot di Sumatera Selatan mencapai 1.500 titik. Data ini terus kami pantau sebagai bagian dari upaya deteksi dini dan pencegahan karhutla,” ujarnya di Palembang, Senin, 15 Juni 2026. Dari seluruh wilayah, Kabupaten Muara Enim menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 302 titik. Angka ini terakumulasi sejak Februari hingga pertengahan Juni, dengan peningkatan yang cukup tajam pada bulan Mei dan Juni.

Sebaran Hotspot di Berbagai Wilayah

Setelah Muara Enim, Kabupaten Lahat menyusul dengan 283 titik panas. Disusul Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak 167 titik, Musi Rawas Utara 155 titik, dan Musi Rawas sebanyak 128 titik. Sementara itu, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sama-sama mencatat 82 hotspot. Untuk wilayah perkotaan, Kota Prabumulih memiliki 26 hotspot, Kota Lubuk Linggau 12 titik, Kota Palembang 10 titik, dan Kota Pagar Alam hanya empat titik. Data ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya terjadi di daerah pedesaan, tetapi juga di sekitar pusat kota.

Lonjakan Drastis di Mei dan Juni

Tren peningkatan hotspot mulai terlihat sejak April. Pada Januari, tercatat 75 titik panas, lalu Februari 54 titik, dan Maret 107 titik. Memasuki April, jumlahnya naik menjadi 150 titik. Puncaknya terjadi pada Mei dengan lonjakan drastis mencapai 708 titik. Hingga pertengahan Juni, jumlah yang terdeteksi sudah mencapai 406 titik. “Lonjakan hotspot pada Mei hingga Juni menjadi perhatian kami karena berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang selama ini menjadi wilayah rawan karhutla,” jelas Sudirman.

Upaya Pencegahan dan Imbauan Masyarakat

Menghadapi situasi ini, BPBD Sumsel bersama TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, serta pemerintah kabupaten dan kota terus bergerak. Patroli darat dan udara dilakukan secara rutin, pemantauan hotspot diperketat, dan sosialisasi kepada masyarakat digencarkan. Personel serta peralatan pemadaman juga telah disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya karhutla selama musim kemarau. Di tengah upaya tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Praktik ini dinilai sangat berisiko memicu kebakaran yang lebih luas dan berdampak buruk terhadap lingkungan serta kesehatan. “Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat,” tutur Sudirman.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar