Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global, Ribuan Kapal Tertahan

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:50 WIB
Blokade Selat Hormuz Picu Krisis Energi Global, Ribuan Kapal Tertahan

PARADAPOS.COM - Blokade de facto di Selat Hormuz, menyusul eskalasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026, telah mengacaukan rantai pasokan energi global. Akibat pembatasan yang diterapkan Teheran, hampir dua ribu kapal komersial tertahan, memicu lonjakan harga bahan bakar dunia dan memaksa berbagai negara bernegosiasi untuk mengamankan jalur pelayaran kapal-kapal mereka.

Dampak Langsung dari Ketegangan Militer

Eskalasi dimulai dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan kerusakan luas di Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran tidak hanya menyerang fasilitas militer AS di Timur Tengah, tetapi juga mengambil kendali atas Selat Hormuz—jalur vital bagi lebih dari seperempat perdagangan minyak global. Langkah ini secara efektif menghentikan lalu lintas maritim di selat tersebut bagi kapal-kapal yang dianggap bermusuhan.

Akibatnya, sekitar 1.900 kapal terpaksa berlabuh di perairan terbuka Teluk Persia, menunggu kepastian. Situasi ini langsung berimbas pada pasar komoditas, dengan harga minyak mentah dan turunannya meroket di berbagai belahan dunia, menambah beban ekonomi global yang sudah rapuh.

Kriteria dan Negosiasi Lintas Negara

Meski memberlakukan pembatasan ketat, pemerintah Iran menyatakan bahwa selat tersebut tidak sepenuhnya tertutup. Otoritas di Teheran menegaskan bahwa kapal dari negara-negara yang dinilai netral atau bersahabat masih dapat melintas, asalkan mematuhi prosedur keamanan yang ditetapkan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya yang dikutip sejumlah media internasional, secara tegas menjelaskan kebijakan selektif ini.

"Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz," jelas Araghchi.

Dia menambahkan, "Kami tidak punya alasan untuk mengizinkan 'kapal-kapal musuh' melewati Selat Hormuz."

Pernyataan tersebut menjadi dasar dari gelombang diplomasi darurat yang dilakukan banyak negara. Upaya negosiasi bilateral intensif kemudian dilakukan untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak dan mendapatkan jaminan keamanan untuk pelayaran mendatang.

Respons dan Kesepakatan dengan Negara Asia

Beberapa negara Asia tercatat cukup aktif dan mendapatkan respons positif dari Iran. Malaysia, melalui intervensi langsung Perdana Menteri Anwar Ibrahim, berhasil mendapatkan izin untuk kapal tankernya.

"Sekarang kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang," tutur Anwar dalam pidato televisi.

Namun, dia mengakui kompleksitas situasi, "Namun, ini tidak mudah karena Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan."

Thailand juga melaporkan kemajuan setelah koordinasi diplomatik. Menteri Luar Negeri Sihasak Phuangketkeow mengonfirmasi bahwa satu kapal tanker telah berhasil melintas dengan selamat.

"Pada 23 Maret diketahui bahwa kapal Bangchak telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan kini sedang dalam perjalanan kembali ke Thailand," ungkapnya.

Proses serupa, lanjutnya, sedang diupayakan untuk kapal kedua milik perusahaan Thailand.

Sementara itu, di Jakarta, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan telah menerima sinyal positif dari Teheran terkait dua kapal tanker Pertamina yang tertahan. Juru Bicara Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyebut koordinasi intensif terus dilakukan.

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Nabyl. Meski belum ada kepastian waktu, langkah teknis dan operasional untuk pembebasan kapal telah mulai dijalankan.

Jepang dan Sinyal Fleksibilitas Iran

Negara lain yang terlibat komunikasi adalah Jepang, sebagai salah satu importir energi terbesar dunia. Menlu Araghchi menyampaikan kesiapan Iran untuk memfasilitasi pelayaran kapal-kapal Jepang.

"Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka," tegas Araghchi dalam wawancara dengan Kyodo News.

Dia menawarkan bantuan keamanan, "Iran siap untuk memastikan jalur aman bagi negara-negara seperti Jepang jika mereka berkoordinasi dengan Teheran." Pernyataan ini menunjukkan adanya ruang diplomasi, meski Araghchi menekankan bahwa tujuan akhir Iran adalah pengakhiran perang yang komprehensif, bukan sekadar gencatan senjata.

Blokade di Selat Hormuz ini menggarisbawahi betapa rapuhnya jalur perdagangan energi global terhadap gejolak geopolitik di titik-titik choke point strategis. Nasib ribuan kapal dan stabilitas harga energi dunia kini bergantung pada jalur diplomasi yang berliku dan negosiasi yang penuh kehati-hatian antara Teheran dengan puluhan negara yang kepentingan ekonominya terdampak.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar