PARADAPOS.COM - Dua ekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) dilaporkan mati akibat infeksi virus yang sangat menular. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat mengonfirmasi bahwa Huru dan Hara, nama kedua satwa tersebut, tewas setelah menunjukkan gejala sakit yang cepat memburuk pekan lalu. Hasil nekropsi atau bedah bangkai mengungkap Feline Panleukopenia Virus (FPV) sebagai penyebab kematian, sebuah ancaman serius bagi keluarga kucing, terutama yang berusia muda.
Kronologi Penurunan Kesehatan
Kejadian bermula pada Sabtu, 22 Maret 2026, ketika tim medis kebun binatang melaporkan kondisi salah satu anak harimau, Hara, kepada petugas BBKSDA. Saat itu, Hara sudah terlihat lesu, tidak aktif seperti biasa, dan mengalami muntah serta diare. Respons penanganan pun segera dilakukan untuk mencoba menyelamatkan nyawa satwa langka tersebut.
Ammy Nurwaty, Pelaksana Tugas Kepala BBKSDA Jawa Barat, menjelaskan langkah awal yang diambil oleh tim. "Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya parasit cacing pada muntahan, sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin," ungkapnya.
Menyadari potensi penularan yang tinggi, tim juga mengambil tindakan pencegahan terhadap saudaranya. "Sebagai langkah antisipasi, harimau Huru yang berada dalam satu kandang juga diberikan vitamin dan obat cacing, serta kedua satwa kemudian dipisahkan kandangnya untuk mencegah penularan," tambah Ammy.
Upaya Kolaborasi dan Perburukan Kondisi
Meski upaya isolasi dan pengobatan awal telah dilakukan, kondisi Hara justru menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Pada hari berikutnya, Minggu (23/3), gejala klinis yang dialami satwa itu semakin parah. Diare yang dialami Hara dilaporkan telah disertai dengan darah, sebuah tanda yang menunjukkan infeksi telah memasuki fase kritis.
Menghadapi situasi genting ini, BBKSDA Jawa Barat tidak bekerja sendirian. Lembaga tersebut segera menggalang koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung serta meminta pendalaman penanganan dari tim medis veteriner UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat. Kolaborasi ini menunjukkan kompleksitas penanganan satwa liar sakit yang membutuhkan keahlian multidisiplin.
Diagnosis Akhir dan Karakter Virus
Sayangnya, seluruh upaya tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan Hara dan Huru. Hasil pemeriksaan medis mendalam pasca kematian keduanya akhirnya memastikan penyebab utamanya. Virus Feline Panleukopenia (FPV) yang teridentifikasi dikenal dalam dunia konservasi dan kedokteran hewan sebagai patogen yang ganas.
Virus ini memiliki tingkat penularan tinggi dan angka kematian yang signifikan, khususnya pada anak-anak satwa dari famili Felidae seperti harimau. Kasus ini menyoroti tantangan konstan dalam menjaga kesehatan satwa di penangkaran, di mana wabah penyakit dapat menyebar dengan cepat meski protokol karantina telah diterapkan. Kejadian ini menjadi catatan penting bagi pengelola satwa tentang vigilans kesehatan dan kecepatan respons terhadap gejala penyakit menular.
Artikel Terkait
Panduan Lengkap Budidaya Cabai Rawit di Pot untuk Pemula
Petir Tewaskan Satu Wisatawan dan Lukai Sembilan Orang di Pantai Lumajang
Lembaga Riset Peringatkan Ketimpangan Pertumbuhan Industri Pengolahan 2025
Presiden Prabowo Mulai Kunjungan Resmi ke Jepang, Bahas Kerja Sama Strategis