Lembaga Riset Peringatkan Ketimpangan Pertumbuhan Industri Pengolahan 2025

- Minggu, 29 Maret 2026 | 07:25 WIB
Lembaga Riset Peringatkan Ketimpangan Pertumbuhan Industri Pengolahan 2025

PARADAPOS.COM - Lembaga riset NEXT Indonesia Center mengingatkan bahwa di balik pertumbuhan impresif industri pengolahan Indonesia pada 2025, tersembunyi tekanan berat pada sektor padat karya. Sektor-sektor seperti tekstil, pakaian jadi, dan karet-plastik justru tertinggal, bahkan mengalami kontraksi, padahal mereka merupakan penyerap tenaga kerja yang signifikan. Ketimpangan ini, menurut lembaga tersebut, memerlukan perhatian dan kebijakan khusus dari pemerintah untuk memastikan pertumbuhan yang inklusif.

Dua Wajah Pertumbuhan Industri

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memang menunjukkan performa yang kuat secara keseluruhan. Industri pengolahan tumbuh 5,30 persen pada 2025, dengan subsektor seperti logam dasar dan mesin melesat menjadi primadona baru. Namun, di balik angka agregat yang menggembirakan itu, terjadi polarisasi yang tajam. Sementara industri berbasis sumber daya alam dan teknologi tumbuh pesat, industri padat karya tradisional justru terengah-engah.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyoroti ketimpangan ini. Ia membedakan antara "sunrise industry" yang sedang naik daun dan "sunset industry" yang mulai redup.

"Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi," ungkapnya.

Industri karet dan plastik, misalnya, tercatat menyusut 4,07 persen pada tahun yang sama. Padahal, sektor-sektor inilah yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan lapangan kerja bagi jutaan tenaga kerja dengan beragam tingkat keterampilan.

Kontribusi Investasi yang Menurun

Tekanan pada sektor padat karya juga tercermin dari pola investasi. Secara nominal, realisasi investasi di industri pengolahan memang meningkat menjadi Rp780,9 triliun pada 2025. Namun, bila dilihat lebih dalam, kontribusinya terhadap total investasi nasional justru merosot dari 42,08 persen menjadi 40,44 persen.

Christiantoko menganalisis bahwa penurunan ini dipicu oleh stagnasi penanaman modal asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN). Fenomena ini mengisyaratkan bahwa daya tarik sektor manufaktur Indonesia di mata investor global mungkin sedang diuji, atau aliran modal lebih terkonsentrasi pada segmen-segmen tertentu yang kurang padat karya.

Panggilan untuk Reindustrialisasi yang Inklusif

Dengan total pekerja di sektor industri pengolahan yang mencapai 20,3 juta orang—berkontribusi 13,86 persen terhadap total tenaga kerja nasional—kesehatan sektor ini jelas berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas. Pertumbuhan yang hanya dinikmati oleh segelintir subsektor berteknologi tinggi atau berbasis sumber daya alam berisiko meninggalkan banyak pihak.

Oleh karena itu, Christiantoko menekankan perlunya pendekatan kebijakan yang lebih terarah. Ia memandang bahwa langkah strategis ke depan bukan sekadar mendorong pertumbuhan, tetapi melakukan reindustrialisasi yang menyeluruh.

Kebijakan tersebut, jelasnya, harus menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan.

Peringatan dari lembaga riset ini pada dasarnya adalah pengingat bahwa dalam peta pertumbuhan ekonomi, kesenjangan antar-sektor bisa menjadi jurang yang melemahkan fondasi secara keseluruhan. Tantangannya kini adalah bagaimana merancang transformasi yang tidak meninggalkan industri lama, tetapi membawanya bertransisi ke era baru.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar