Warga Tuban Berebut dan Antre Panjang Dapatkan Elpiji 3 Kg

- Senin, 06 April 2026 | 11:25 WIB
Warga Tuban Berebut dan Antre Panjang Dapatkan Elpiji 3 Kg

PARADAPOS.COM - Kelangkaan gas elpiji bersubsidi 3 kilogram telah melanda Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sejak beberapa hari terakhir. Puluhan warga terpaksa berdesakan dan antre berjam-jam di berbagai pangkalan demi mendapatkan tabung gas untuk kebutuhan harian, sementara stok yang tersedia sangat terbatas. Situasi ini menambah beban masyarakat, terutama pelaku usaha kecil, di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Antrean Panjang dan Perjuangan Warga

Suasana tegang dan hiruk-pikuk terlihat di salah satu pangkalan elpiji di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Tuban. Setiap harinya, lokasi tersebut dipadati warga yang rela berdesakan sejak dini hari, berharap dapat membawa pulang tabung hijau berharga subsidi seharga Rp18.000 itu. Pemandangan antrean panjang ini telah menjadi pemandangan sehari-hari seiring memburuknya ketersediaan stok.

Adriyanto, seorang pedagang gorengan, mengisahkan perjuangannya mendapatkan elpiji. Ia harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain, namun sering kali pulang dengan tangan kosong karena stok sudah habis.

“Tadi saya muter-muter mencari elpiji gak dapat, disini harus antri dulu panjang tapi alhamdulilah ini dapat. Sudah tiga harian agak susah mendapatkan gas 3 kg,” tuturnya, menggambarkan kesulitan yang dialami banyak warga.

Kuota Terbatas dan Kehabisan dalam Hitungan Jam

Di balik kepanikan warga, pengelola pangkalan seperti Andi Mustami juga menghadapi kendala serupa. Ia mengaku hanya menerima distribusi dalam jumlah yang sangat terbatas, yang tidak sebanding dengan tingginya permintaan. Tabung-tabung elpiji yang datang sering habis terjual hanya dalam waktu dua jam, memicu aksi saling dorong dan berebut di antara warga yang sudah menunggu lama.

“Dua jam saja distribusi elpiji habis mas.... karena memang agak susah mendapatkan gas 3 kilo jadi warga selalu berebut antre untuk bisa dapat elpiji, saya sendiri sebagai pangkalan juga tidak bisa dapat banyak kuota,” jelas Andi.

Kekecewaan di Ujung Antrean

Namun, tidak semua orang seberuntung Adriyanto. Banyak warga yang telah mengorbankan waktu berjam-jam justru pulang dengan kekecewaan. Inawaroh adalah salah satu di antaranya. Dengan kartu identitas masih tertempel di tangan sebagai syarat pembelian elpiji subsidi, ia terpaksa menyerah setelah antreannya sia-sia.

“Sudah lama antre malah gak dapat ini …padahal sudah berlarian mendengar elpiji dating di pangkalan,” ujar Inawaroh dengan nada sedih.

Pengalamannya mencerminkan realita pahit yang dialami oleh banyak keluarga, di mana kebutuhan pokok untuk memasak sehari-hari menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan dengan susah payah.

Desakan untuk Intervensi Pemerintah

Merespon situasi yang mencekik ini, masyarakat mulai menyuarakan harapan agar pemerintah daerah segera turun tangan. Kelangkaan yang berkepanjangan ini dinilai semakin memberatkan kehidupan warga, terlebih ketika ditumpuk dengan harga sejumlah komoditas kebutuhan lain yang juga terus merangkak naik. Intervensi dan penjaminan distribusi yang lancar dinilai sangat mendesak untuk meredakan kepanikan dan memastikan hak masyarakat terpenuhi.

Tanpa penyelesaian yang konkret, pemandangan antrean panjang dan keputusasaan warga di pangkalan-pangkalan elpiji diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam hari-hari mendatang.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar