PARADAPOS.COM - Gelombang protes diplomatik mengguncang Tel Aviv setelah video yang memperlihatkan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengejek para relawan kemanusiaan yang ditahan viral di media sosial. Spanyol, Italia, Yunani, Turki, Inggris, Swedia, Irlandia, Finlandia, Norwegia, dan Pakistan secara serentak mengecam tindakan tersebut. Insiden ini bermula ketika Angkatan Laut Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan internasional dan menahan 430 aktivis yang hendak menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza. Para relawan dipaksa berlutut dengan tangan terikat, sementara Ben-Gvir berdiri di dekat mereka sambil mengibarkan bendera Israel. Kecaman keras pun berdatangan dari berbagai negara, mulai dari pemanggilan diplomat hingga desakan sanksi.
Eropa Bereaksi Keras, Panggil Diplomat Israel
Madrid menjadi salah satu ibu kota yang paling vokal. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, mengaku muak setelah menyaksikan rekaman tersebut. Ia menilai tindakan itu tidak manusiawi dan melanggar hukum humaniter internasional.
"Saya melihat video yang mengerikan, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat terkait perlakuan tidak adil dan memalukan terhadap anggota flotilla oleh menteri dan polisi Israel. Saya segera memanggil kuasa usaha Israel ke kementerian luar negeri," tegas Albares pada Rabu (20/5/2026). Ia menuntut permintaan maaf publik dari Tel Aviv.
Langkah serupa diambil Italia. Perdana Menteri Giorgia Meloni dan Menteri Luar Negeri Antonio Tajani secara resmi menyatakan perlakuan terhadap para pengunjuk rasa sipil itu tidak dapat diterima. Roma langsung memanggil Duta Besar Israel untuk dimintai penjelasan resmi. Protes diplomatik juga datang dari Yunani dan Turki. Kementerian Luar Negeri Yunani dan Kepala Departemen Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, sama-sama mengutuk kebrutalan aparat Israel di laut lepas.
Inggris dan Negara Nordik Desak Sanksi untuk Ben-Gvir
Dari London, Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengaku terkejut. Ia menilai tindakan Ben-Gvir telah melampaui batas standar kemanusiaan yang paling dasar.
"Ipar kabinet Israel, Ben-Gvir, mengejek mereka yang terlibat dalam Global Sumud Flotilla. Ini melanggar standar paling dasar. Kami telah meminta penjelasan dari otoritas Israel," cetus Cooper melalui platform X.
Tekanan politik yang lebih keras datang dari blok Nordik. Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, menilai kelakuan Ben-Gvir sudah melewati batas. Menurutnya, insiden ini memperkuat alasan bagi Swedia untuk mendesak Uni Eropa segera menjatuhkan sanksi ekonomi dan politik terhadap menteri-menteri ekstremis di kabinet Israel. Gayung bersambut, Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin menyatakan kesiapannya membawa masalah ini ke meja perundingan tingkat tinggi Uni Eropa. Sementara itu, Finlandia dan Norwegia langsung mengirim tim diplomatik ke penjara Tel Aviv pada Kamis (21/5/2026) untuk memberikan bantuan konsuler darurat bagi warga negara mereka yang ditawan.
Asia Bersuara, Pakistan Tuntut Pembebasan Segera
Kemarahan tidak hanya melanda Eropa. Dari Asia Selatan, Kementerian Luar Negeri Pakistan mengecam keras aksi pembajakan kapal kemanusiaan ini. Pasalnya, salah satu tokoh kemanusiaan terkemuka asal Pakistan, Saad Edhi, dilaporkan ikut disandera dalam penahanan ilegal tersebut.
"Pakistan menuntut pembebasan segera seluruh aktivis yang ditahan secara ilegal. Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk menjamin keselamatan, martabat, dan hak-hak dasar para tahanan," tulis pernyataan resmi Islamabad.
Hingga berita ini diturunkan, poros diplomasi global terus bergerak dinamis. Tekanan untuk membebaskan 430 relawan lintas negara semakin kuat, di tengah posisi Israel yang kian terisolasi akibat tindakan provokatif menterinya sendiri di panggung dunia.
Artikel Terkait
USS Nimitz Masuki Perairan Karibia di Tengah Ketegangan AS-Kuba dan Tuntutan Pidana Trump terhadap Raul Castro
430 Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Fisik dan Psikologis Usai Ditahan Israel di Perairan Internasional
Enam Drone Serang PLTN Barakah UEA, Tiga Ditargetkan ke Reaktor Nuklir
Trump Klaim Angkatan Laut dan Udara Iran Hancur dalam Operasi Militer AS