Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Hormuz dan Defisit APBN yang Membengkak

- Selasa, 07 April 2026 | 02:25 WIB
Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Hormuz dan Defisit APBN yang Membengkak

PARADAPOS.COM - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada pembukaan perdagangan Selasa, 7 April 2026. Tekanan terhadap mata uang domestik ini terjadi meskipun dolar AS sendiri juga mengalami pelemahan, didorong oleh ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pergerakan Kurs di Awal Sesi

Data dari Bloomberg menunjukkan rupiah dibuka di level Rp17.076 per USD, melemah 41 poin atau 0,24% dari penutupan sebelumnya di Rp17.035. Sementara itu, pantauan dari Yahoo Finance pada waktu yang sama mencatat posisi rupiah di Rp17.032 per USD, juga lebih rendah dibanding posisi kemarin di Rp17.010. Perbedaan angka dari kedua sumber tersebut mengindikasikan volatilitas yang cukup tinggi di awal sesi perdagangan.

Analisis Pasar dan Sentimen Geopolitik

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan fluktuatif namun cenderung ditutup melemah, dengan rentang pergerakan antara Rp17.030 hingga Rp17.080 per USD. Sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang berpusat di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump dikabarkan memberikan tenggat waktu hingga Selasa ini bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal tanker. Ultimatum ini langsung mendapat respons dari Teheran.

Juru Bicara Presiden Iran Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei menegaskan bahwa transit melalui selat strategis itu hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatannya dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang. Sikap ini menghidupkan kembali kekhawatiran investor akan potensi eskalasi konflik di kawasan Teluk yang dapat mengganggu pasokan energi global.

"Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat Hormuz tetap diblokir," jelas Ibrahim Assuaibi.

Faktor Domestik: Defisit APBN

Di tengah tekanan eksternal tersebut, data fiskal domestik juga turut menjadi perhatian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Maret 2026 telah mencapai Rp240,1 triliun, atau setara dengan 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya, yang sebesar Rp99,8 triliun (0,41% terhadap PDB).

Meski masih berada di bawah batas atas target defisit APBN 2026 sebesar 2,68% terhadap PDB, perkembangan ini diamati secara saksama oleh pelaku pasar sebagai salah satu indikator kesehatan fiskal yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset Indonesia, termasuk nilai tukar rupiah.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar