PARADAPOS.COM - Sebuah diskusi yang digelar di Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026, menantang generasi muda untuk tidak sekadar menelan mentah-mentah informasi yang berseliweran di layar gawai. Acara bertajuk “GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?” yang berlangsung di Swissôtel Jakarta PIK Avenue ini menghadirkan para pembicara dari lintas profesi, mulai dari akademisi hingga kreator konten. Tujuannya jelas: membuka ruang bagi Gen Z untuk menyuarakan keresahan mereka terhadap realitas digital yang kerap dikendalikan oleh algoritma.
Wadah Kritis di Tengah Derasnya Informasi
Afris Sara Frelilyan, selaku Ketua Pelaksana, menegaskan bahwa acara ini bukanlah sekadar forum biasa. Ia menyebut kegiatan ini sebagai sebuah gerakan kesadaran.
“Kami ingin memberikan wadah bagi Gen Z untuk menyuarakan keresahan mereka, sekaligus memicu mereka agar tidak menelan mentah-mentah apa yang ada di layar gawai,” ujarnya.
Diskusi ini digagas oleh platform komunitas mahasiswa Universitas Mercu Buana, @spectaumb, bekerja sama dengan PT Kreasi Abadi Jayatama. Suasana di lokasi terasa hangat ketika para peserta mulai berbagi pengalaman soal tekanan algoritma dan pencarian identitas digital.
Menghadirkan Perspektif Ganda: Akademisi dan Praktisi
Untuk memperkaya sudut pandang, panitia sengaja menghadirkan tokoh-tokoh kreatif seperti Pandji, JFlow, dan Rian Fahardhi. Kehadiran mereka, menurut Afris, menjadi pemantik bahwa sikap kritis itu keren dan esensial.
“Even ini bukan sekadar seminar biasa, melainkan sebuah gerakan kesadaran bagi anak muda agar tidak tersesat di era disrupsi informasi. Kehadiran tokoh seperti Pandji, JFlow, dan Rian Fahardhi diharapkan bisa menjadi pemantik inspirasi bahwa bersikap kritis itu keren dan esensial,” jelasnya.
Perspektif akademis turut diwakili oleh dosen UMB Dya Loretta, dengan dukungan penuh dari Dekan Fikom UMB Prof. Ahmad Mulyana dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Dr. Farid Hamid. Afris menambahkan bahwa kombinasi ini penting untuk memicu kesadaran Gen Z akan privasi dan kepemilikan ruang digital mereka sendiri.
Kisah Personal Rian Fahardhi: Dari Menulis Hingga Aksi Nyata
Sesi yang paling menyita perhatian adalah ketika kreator konten Rian Fahardhi naik ke panggung. Ia membagikan kisah personalnya saat memulai karier, bukan dari panggung megah, melainkan dari keheningan.
“Dulu saya sadar punya kelemahan bicara di depan banyak orang. Akhirnya, saya mencari medium lain yang bisa saya perjuangkan, yaitu menulis. Kemampuan berdiam diri dan menulis itu menjadi senjata favorit saya untuk menuangkan ide-ide pikiran, hingga terlatih ikut berbagai lomba kepenulisan,” tuturnya.
Rian juga mengajak anak muda untuk mengubah cara pandang mereka terhadap media sosial. Ia mengingatkan agar Gen Z tidak terjebak dalam pusaran konten yang hanya mengejar angka viral dan popularitas semu.
“Contohnya lewat movement Sekolah Tanah Air yang kami bangun. Berawal dari konten digital yang memviralkan fasilitas bangku dan meja sekolah yang rusak, akhirnya tempat tersebut direvitalisasi dan diperbaiki. Kita harus bisa membuat konten yang mampu memperbaiki hidup seseorang,” ungkap Rian.
Acara ini ditutup dengan pesan bahwa kendali atas gawai harus berada di tangan pengguna, bukan sebaliknya. Gen Z didorong untuk menciptakan perubahan yang substantif di dunia nyata, bukan sekadar menjadi penonton pasif di layar ponsel mereka.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Tottenham Rekrut Sandro Tonali dari Newcastle, Gelandang Italia Jadi Pembelian Keenam Spurs
Pemerintah Arahkan Rekonstruksi Pascabencana di Sumatera pada Penataan Ulang Tata Ruang Berbasis Mitigasi Risiko
Jadwal Salat Makassar 7 Juli 2026: Imsak Pukul 04:41, Subuh 04:51, hingga Isya 19:19 Wita
Pemerintah Fokus Siapkan Tenaga Kerja Kompeten untuk Dukung Investasi Rp6 Triliun di KEK Mandalika