PARADAPOS.COM - Toko-toko perlengkapan plastik di Kota Padang, Sumatra Barat, mulai mengalami kelangkaan stok. Situasi ini terjadi bersamaan dengan tren kenaikan harga yang signifikan untuk berbagai jenis plastik kemasan, mulai dari kantong kresek hingga gelas plastik, dengan kenaikan mencapai 15 hingga 100 persen. Pelaku usaha melaporkan pasokan dari produsen terhenti, sementara pedagang eceran dan pelaku usaha mikro mulai merasakan dampak pada operasional dan omzet mereka.
Pasokan Terhenti, Stok Toko Menipis
Leni, pelaku usaha Toko Elok Plastik di Padang, mengonfirmasi bahwa kelangkaan ini bukan sekadar isu harga. Menurutnya, produsen sudah tidak lagi mengirimkan barang meskipun toko telah melakukan pemesanan. Kondisi ini membuat stok di tokonya kian menipis.
"Stok di toko ini sebenarnya mulai menipis, tidak ada lagi produsen yang menghantarkan ke toko, padahal kami sudah mengajukan permintaan. Soal harga memang lagi naik, terutama untuk jenis plastik kebutuhan sehari-hari," tuturnya pada Selasa (7/4/2026).
Kenaikan Harga yang Drastis untuk Jenis-Jenis Tertentu
Leni menjelaskan, kenaikan paling tajam terjadi pada plastik jenis polipropilena (PP) bening yang biasa digunakan untuk membungkus minyak goreng curah, gula, dan tepung. Harga jenis ini melonjak hingga 100 persen, dari kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kilogram menjadi Rp45.000-Rp50.000 per kilogram.
Tak hanya itu, plastik gelas juga mengalami kenaikan serupa. "Plastik gelas juga mengalami kenaikan harga 100%, yakni dari Rp250.000 per dus kini naik menjadi Rp500.000 per dus," jelasnya. Sementara kantong kresek naik sekitar 70 persen dan plastik terpal naik 15 persen.
Dampak Langsung pada Usaha dan Pasar
Kombinasi antara harga yang melambung dan pasokan yang terputus ini memberikan pukulan ganda bagi bisnisnya. Leni mengaku omzet tokonya anjlok hingga 50 persen. Kekhawatiran terbesarnya adalah toko akan kehabisan barang dagangan jika kondisi berlarut-larut.
"Sudah banyak yang habis plastik di toko ini, harusnya sudah ada masuk yang baru. Tapi tidak kunjung datang, kalau lama-lama begini, bisa sepi isi toko saya," ungkapnya dengan nada prihatin.
Penyebab Diduga dari Rantai Pasok Global
Berdasarkan informasi yang diterima dari produsen di Medan, akar masalahnya berasal dari kenaikan harga bahan baku plastik yang terkait dengan minyak bumi. Produsen menyebut gejolak harga minyak global, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik seperti konflik Iran-Israel, sebagai penyebabnya. Kenaikan ini mulai dirasakan sejak pertengahan Ramadan 2026.
"Kata pihak pabrik yang ada di Medan bahan baku plastik memang lagi naik, kan plastik ini terbuat dari minyak. Harga minyak ini terdampak dari pasar global yakni perang Iran - Israel itu, kami dapat informasi dari produsen begitu," ujarnya.
Respons Pedagang Kecil: Bertahan Sambil Waspada
Dampak gelombang kenaikan ini merambat hingga ke pedagang kaki lima. Rahmat, seorang pedagang es tebu keliling di Padang, mengaku belum berani menaikkan harga jualannya meski biaya kemasan plastiknya membengkak. Strateginya saat ini adalah menahan harga untuk menjaga daya beli pelanggan.
"Saya belum menaikkan harga es tebu, masih Rp5.000 per gelas untuk yang murni itu. Kalau dinaikkan sekarang, khawatirnya pelanggan saya jadi sepi. Jadi kami lihat dulu, kalau tetap bertahan harga plastik seperti itu, ya mau tidak mau harus dinaikan lagi harga es tebu ini," ucap Rahmat.
Situasi ini menggambarkan kerentanan rantai pasok komoditas harian terhadap gejolak global. Bagi banyak pelaku usaha di Padang, ketidakpastian kapan pasokan akan normal kembali menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi dalam beberapa pekan ke depan.
Artikel Terkait
Menkeu Dorong Pembukaan 380 Lowongan Bea Cukai untuk Lulusan SMA Bulan Depan
Enam Perusahaan Sepakat Bayar Rp4,8 Triliun Ganti Rugi Lingkungan Akibat Banjir Sumatra
Polisi dan Petani Kembangkan Lahan Jagung 30 Hektare di Banjarbaru
Jaksa Agung Tinjau Langsung Lokasi Tambang Ilegal di Murung Raya