PARADAPOS.COM - Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Sabtu (11/4/2026). Dalam pidato pembukaannya, Presiden tidak hanya menegaskan keputusannya untuk mengakhiri masa jabatan sebagai Ketua Umum PB IPSI setelah 34 tahun, tetapi juga menyoroti peran historis pencak silat sebagai bagian dari identitas dan perlawanan bangsa.
Kilasan Sejarah: Pencak Silat dan Perlawanan
Dengan nada yang reflektif, Prabowo mengawali pidatonya dengan menyinggung panjangnya sejarah penjajahan di Nusantara. Ia menggambarkan bagaimana kekayaan alam Indonesia sejak lama menarik minat bangsa-bangsa asing, yang pada akhirnya berujung pada penjajahan. Karakter masyarakat Indonesia yang ramah, menurutnya, sempat dimanfaatkan oleh para pendatang tersebut.
"Saudara-saudara, kita pernah dijajah ratusan tahun. Silih berganti karena nusantara sangat-sangat kaya. Dari dulu sampai sekarang kita sangat kaya, dari dulu sampai sekarang kita diganggu, bukan kita yang ke sana, mereka yang ke sini," ujarnya.
Ia melanjutkan dengan menggambarkan titik balik perlawanan. "Kita ini bangsa yang ramah, kita terima mereka dengan baik. Tapi yang datang itu lihat kok bangsa ini baik banget, ya tidak mau pulang-pulang. Terpaksa kita harus usir, harus lawan mereka," kata Prabowo.
Masa Kelam dan Latihan Sembunyi-sembunyi
Dalam konteks perlawanan inilah, Prabowo mengulas peran vital pencak silat. Ia menceritakan bagaimana seni bela diri ini sempat dilarang pada masa kolonial, memaksa para guru dan muridnya berlatih secara diam-diam, jauh dari keramaian kota.
"Waktu itu pencak silat dilarang, tidak boleh belajar. Akhirnya pencak silat dilatih malam-malam oleh guru-guru kita di bukit-bukit, di gunung-gunung," tuturnya.
Kondisi inilah yang sempat membuat pencak silat kerap dipandang sebelah mata. "Yang belajar pencak silat ya cari desa, cari kampung, cari gunung, latihannya diam-diam, ilmunya diam-diam," lanjutnya, menjelaskan asal-usul citra pencak silat sebagai 'olahraga kampung'.
Permohonan Pamit dan Warisan untuk IPSI
Momen Munas ini menjadi kesempatan bagi Prabowo untuk menyampaikan keputusan penting mengenai posisinya di organisasi. Dengan nada nostalgia namun tegas, ia menyatakan mengakhiri pengabdian panjangnya sebagai pucuk pimpinan IPSI.
"Boleh lah saya nostalgia, karena di sinilah saya mohon diri, saya pamit sebagai ketua umum. Bisa dikatakan saya sudah 34 tahun di kalangan IPSI," ucapnya.
Meski melepas jabatan formal, ia menegaskan komitmennya untuk tetap mendukung IPSI tidak akan pernah pudar. "Seorang pendekar adalah sampai napas dia terakhir dia pendekar," tegas Prabowo, menekankan ikatan batin yang lebih dalam daripada sekadar sebuah posisi struktural.
Refleksi dan Harapan ke Depan
Presiden juga menyampaikan refleksi atas beberapa target yang belum tercapai, salah satunya adalah upaya membawa pencak silat ke panggung Olimpiade. Ia menyampaikan permohonan maaf sekaligus keyakinannya pada generasi penerus.
"Saya minta maaf saya belum berhasil membawa pencak silat ke Olimpiade. Kita terus berusaha, saya yakin pengganti saya nanti akan berhasil," ujarnya.
Lebih dari sekadar pengakuan internasional, Prabowo berpesan agar IPSI ke depan tetap berpegang pada prinsip utama. "Obsesi kita harus menjaga mutu, kemurnian daripada pencak silat itu sendiri. Kalau ilmunya murni, ilmunya kuat, saudara-saudara dari mana-mana akan datang belajar," jelasnya.
Ia pun memberikan perspektif yang lapang mengenai perkembangan pencak silat di negara lain, termasuk negara yang pernah dilatih Indonesia. "Kita dulu melatih Vietnam, Thailand, akhirnya mereka jadi hebat dan mereka pernah kalahkan kita. Tidak apa-apa, karena itu tugas seorang guru," katanya dengan sikap sportif seorang pendekar sejati.
Menutup pidato yang penuh muatan sejarah dan emosi ini, Prabowo kembali menegaskan keputusannya dengan kata-kata yang jelas dan definitif. "Saya menyatakan di sini mohon diri, minta maaf, saya tidak bersedia untuk dicalonkan kembali. Saya yakin sudah ada generasi penerus yang pantas," tandasnya, mengakhiri satu babak penting kepemimpinan di tubuh IPSI.
Artikel Terkait
Pemerintah Lanjutkan Penyaluran Bansos Reguler April 2026, Percepat Distribusi via Data Tunggal
Anggota DPR Nilai Wacana War Ticket untuk Haji Prematur dan Berpotensi Tak Adil
Bank Indonesia Tegaskan Perbedaan Mendasar Uang Kartal dan Uang Giral
Presiden Prabowo: Pencak Silat Cermin Jati Diri Bangsa, Bukan Sekadar Olahraga