Paus Leo XIV Tegaskan Tak Gentar Hadapi Kritik Trump, Serukan Perdamaian Tetap Jadi Prioritas

- Selasa, 14 April 2026 | 00:25 WIB
Paus Leo XIV Tegaskan Tak Gentar Hadapi Kritik Trump, Serukan Perdamaian Tetap Jadi Prioritas

PARADAPOS.COM - Paus Leo XIV menegaskan bahwa dirinya tidak gentar menghadapi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan akan tetap vokal menyerukan perdamaian. Pernyataan tegas pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu disampaikan kepada awak media dalam penerbangannya menuju Aljir, Senin (13 April 2026), sebagai respons atas kritik tajam Trump yang menyebut Paus "lemah" dan "buruk dalam kebijakan luar negeri". Kunjungan pastoral sepuluh hari ke beberapa negara Afrika ini pun dibayangi ketegangan diplomatik yang langka antara Vatikan dan Gedung Putih.

Paus Tegaskan Prinsip, Tanggapi Kritik Trump

Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, Paus Leo XIV menekankan bahwa misinya berasal dari ajaran Injil, bukan pertimbangan politik duniawi. Ia menjelaskan bahwa seruan perdamaian yang terus dikumandangkannya berakar pada iman, dan karenanya tidak akan surut.

“Saya berbicara tentang Injil dan karena itu saya akan terus bersuara lantang menentang perang. Saya tidak berniat untuk berdebat dengannya,” tutur Paus, merujuk pada Presiden Trump.

Ia melanjutkan penjelasannya dengan menyoroti perbedaan mendasar antara pendekatan spiritual dan politik. Paus tampak berusaha menempatkan perbedaan pendapat ini dalam konteks yang lebih luas, tanpa terpancing untuk berpolemik secara personal.

“Menyamakan pesan saya dengan apa yang telah diupayakan presiden di sini, menurut saya, berarti tidak memahami pesan Injil,” jelasnya dalam wawancara terpisah. “Dan saya menyesal mendengarnya, tetapi saya akan melanjutkan apa yang saya yakini sebagai misi gereja di dunia saat ini.”

Dukungan dari Konferensi Uskup AS dan Eskalasi Kritik

Merespons komentar Trump, hierarki Gereja Katolik di Amerika Serikat tampil membela Paus. Uskup Agung Paul S. Coakley, selaku Presiden Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat (USCCB), mengeluarkan pernyataan yang menegaskan posisi Paus bukanlah sebagai pesaing politik.

“Saya sedih bahwa Presiden memilih untuk menulis kata-kata yang meremehkan tentang Bapa Suci. Paus Leo bukanlah saingannya; Paus juga bukan seorang politikus. Dia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan untuk perawatan jiwa,” ungkap Uskup Coakley.

Di sisi lain, kritik dari mantan presiden AS itu justru semakin mengeras. Dalam unggahan media sosial dan pernyataan di landasan pacu setelah penerbangan dari Florida, Trump tidak hanya mengulangi kritiknya tetapi juga menyematkan label politis.

“Saya bukan penggemar Paus Leo,” katanya dengan blak-blakan. Pada kesempatan lain, ia bahkan menyatakan keraguan atas kinerja Paus dan menyebutnya sebagai "orang yang sangat liberal," seraya menyarankan agar Paus menjauhi pengaruh sayap kiri radikal.

Kunjungan ke Afrika di Bawah Bayangan Ketegangan

Ketegangan yang mengemuka ini terjadi di tengah misi penting Paus Leo XIV untuk mengunjungi empat negara Afrika: Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Ekuatorial. Kunjungan sepuluh hari tersebut, yang sejatinya berfokus pada persaudaraan dan dorongan spiritual, kini juga menyoroti peran Vatikan dalam percakapan global tentang perdamaian dan konflik.

Sebagai Paus kelahiran Amerika Serikat, tanggapan Leo XIV terhadap pemerintah negara asalnya tersebut diamati dengan cermat oleh komunitas internasional. Responsnya yang berprinsip dan menghindari debat langsung mencerminkan posisi Gereja yang berusaha tetap berada di atas gesekan politik sambil tanpa ragu menyuarakan prinsip moralnya.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar