IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Jadi 3,1% Akibat Dampak Konflik

- Rabu, 15 April 2026 | 02:25 WIB
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Jadi 3,1% Akibat Dampak Konflik

PARADAPOS.COM - Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,1 persen, mencerminkan dampak berkelanjutan dari konflik di Timur Tengah terhadap harga energi, perdagangan, dan inflasi. Laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026 ini menyajikan prakiraan referensi yang mengasumsikan konflik akan mereda pada pertengahan tahun depan, dengan inflasi global diperkirakan meningkat sebelum akhirnya melandai.

Dampak Konflik pada Proyeksi Global

Revisi penurunan ini menandai perlambatan dari pertumbuhan 3,4 persen yang diperkirakan untuk 2025. Para ekonom IMF secara terbuka mengakui kompleksitas membuat proyeksi di tengah ketidakpastian geopolitik yang tinggi. Oleh karena itu, laporan kali ini tidak menggunakan garis dasar tradisional, melainkan sebuah "prakiraan referensi" yang telah memasukkan dampak perang dengan asumsi bahwa gejolak akan terbatas durasi dan intensitasnya.

Mengutip Xinhua, Rabu (15/4/2026), laporan itu memproyeksikan inflasi inti global akan naik menjadi 4,4 persen pada 2026 sebelum turun ke 3,7 persen di tahun berikutnya. Kenaikan ini erat kaitannya dengan lonjakan harga komoditas, terutama energi.

Goncangan Harga Energi dan Pangan

Gangguan di kawasan penghasil minyak dunia diproyeksikan mendorong harga komoditas energi naik tajam sebesar 19 persen pada 2026, dengan kenaikan harga minyak mentah mencapai 21,4 persen. Efek berantainya turut menyentuh sektor pangan.

Harga pangan global juga diperkirakan melampaui proyeksi sebelumnya, didorong oleh biaya energi dan pupuk yang membumbung tinggi, ditambah gangguan pada rute pengiriman dan logistik global. Kombinasi faktor ini menciptakan tekanan hidup yang signifikan, khususnya bagi negara-negara berpenghasilan rendah yang bergantung pada impor.

Perdagangan Dunia Melemah dan Dampaknya

Arus perdagangan internasional diperkirakan ikut melempem. Pertumbuhan volume perdagangan dunia diproyeksikan melorot dari 5,1 persen di 2025 menjadi hanya 2,8 persen pada 2026, sebelum pulih moderat ke 3,8 persen di 2027. Pelemahan ini, bersama dengan depresiasi mata uang, diperkirakan akan menghantam pertumbuhan kumulatif negara-negara berpenghasilan rendah selama dua tahun ke depan.

Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan untuk negara-negara berkembang pada 2026 direvisi turun 0,3 poin persentase. Sementara itu, prospek untuk kelompok negara maju secara umum stagnan, meski dengan variasi di tiap kawasan.

Proyeksi Kawasan: AS, Eropa, dan Asia

Ekonomi Amerika Serikat diperkirakan masih tumbuh positif, masing-masing 2,3 persen dan 2,1 persen untuk 2026 dan 2027, meski dibebani oleh hambatan perdagangan yang meningkat. Situasinya lebih suram di Zona Euro, di mana pertumbuhan diproyeksikan melambat dari 1,4 persen menjadi 1,1 persen pada 2026.

Di Asia, pertumbuhan negara berkembang dan negara membangun diperkirakan melandai dari 5,5 persen menjadi 4,9 persen. Namun, ada sedikit titik terang untuk China, dimana IMF justru menaikkan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,4 persen, didorong oleh langkah stimulus dan perubahan kebijakan tarif.

Rekomendasi Kebijakan di Tengah Ketidakpastian

Menyikapi risiko yang masih bertumpu di sisi negatif, IMF mendesak diambilnya langkah-langkah kebijakan yang komprehensif. Lembaga itu menekankan pentingnya koordinasi internasional untuk membangun ketahanan dan kemampuan adaptasi ekonomi global.

Laporan tersebut juga memberikan peringatan khusus terkait proteksionisme. IMF menilai pembatasan perdagangan memiliki peran terbatas dalam mengoreksi ketidakseimbangan ekonomi dan justru berpotensi menekan produktivitas.

“Pembatasan perdagangan memainkan peran terbatas dalam memperbaiki ketidakseimbangan tetapi dapat memperburuk produksi,” jelas laporan itu, seraya mendesak negara-negara untuk bekerja sama memulihkan stabilitas hubungan ekonomi internasional.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar