Peneliti ITB Peringatkan Impor Mobil Listrik China Bisa Ganggu Industri Domestik

- Kamis, 16 April 2026 | 00:50 WIB
Peneliti ITB Peringatkan Impor Mobil Listrik China Bisa Ganggu Industri Domestik

PARADAPOS.COM - Seorang peneliti transportasi terkemuka mengingatkan pemerintah untuk lebih berhati-hati dalam membuka keran impor kendaraan listrik asal China. Peringatan ini disampaikan menyusul tren peningkatan penjualan mobil listrik China di Indonesia, yang didorong oleh kebijakan insentif pemerintah. Agus Purwadi, Peneliti Senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, memaparkan bahwa tanpa pengawasan dan regulasi yang tepat, masuknya pemain baru secara masif berpotensi mengganggu stabilitas industri otomotif domestik yang telah lama terbangun.

Belajar dari Pengalaman Thailand

Agus Purwadi mengajak semua pihak untuk mencermati contoh nyata dari negara tetangga, Thailand. Di sana, penetrasi kendaraan listrik China telah mencapai porsi yang sangat dominan di pasar.

"Coba lihat negara tetangga kita yang memulai itu sama Thailand, ternyata mereka juga lebih dominan dikuasai pemain China. Tetapi justru memunculkan masalah baru, yang membuat growth-nya juga sedikit," ungkap Agus dalam sebuah paparan di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Berdasarkan data yang ia sajikan, sekitar 80 persen mobil listrik yang beredar di Thailand berasal dari China. Sisanya, meski bermerek non-China, sebagian besar juga diproduksi di negara tersebut.

Kondisi ini, menurutnya, justru menciptakan persaingan yang tidak sehat dan menggerus pasar yang sudah ada. "Thailand sudah menghadapi masalah di otomotifnya, banyak pabrik-pabrik yang mulai menghadapi tantangan. Jadinya kanibal, harusnya dengan kedatangan produk atau merek baru kan menambah penjualan. Tetapi ini justru mereduksi pasar yang sudah ada," jelasnya lebih lanjut.

Dampak nyata dari fenomena ini telah terlihat. Suzuki Motor Corporation, misalnya, secara resmi menutup pabrik perakitannya di Rayong, Thailand pada akhir 2025 lalu. Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur produksi globalnya.

Kunci Ketahanan Industri: Memperkuat Basis Lokal

Namun, Agus juga menunjukkan bahwa tidak semua negara mengalami nasib serupa. Ia membandingkan situasi di Thailand dengan perkembangan di India dan Vietnam, yang dinilai lebih berhasil menjaga industri dalam negerinya.

"Dua negara Asia Pasifik seperti India dan Vietnam justru mampu mempertahankan industri dalam negeri karena memang punya pemain lokal. Tetap ada produsen lainnya, termasuk dari China," lanjut Agus.

Ia menekankan bahwa keberhasilan kedua negara tersebut tidak lepas dari kebijakan dan implementasi yang terukur. "Mereka berhasil membangun elektrifikasi internal-nya karena memang punya policy dan juga implementasi yang terukur. Jadi itu mereka bisa mendorong produknya, India itu GDP-nya sedikit lebih rendah dari kita," katanya.

India mengandalkan kekuatan produsen lokal mapan seperti Tata Motors dan Mahindra. Sementara Vietnam, dengan strategi agresif, mendorong ekspansi besar-besaran melalui merek nasional VinFast. Keberadaan basis industri lokal yang kuat inilah yang menjadi fondasi penting.

"Jadi basis lokalnya paling tidak, ada. Ini seharusnya menjadi pembelajaran untuk kita kenapa pada akhirnya India dan Vietnam bisa membangun (pasar) elektrifikasinya," tegas Agus.

Menjaga Keseimbangan Pertumbuhan Pasar

Agus tidak menampik bahwa kedatangan investor dan pemain baru membawa dampak positif bagi penyerapan investasi dan mempercepat elektrifikasi. Namun, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan. Perkembangan yang tidak disertai dengan kerangka kebijakan yang adil dan pengawasan ketat dikhawatirkan justru akan mengguncang fondasi industri yang sudah terbentuk puluhan tahun.

"Kita kan harapannya ini sama-sama tumbuh, yang sudah eksis juga diberi bantuan stimulus agar tetap bertahan karena ekosistem industri mereka sudah terbentuk di sini. Sementara yang baru (hadir) dibantu agar bisa dijangkau oleh masyarakat," terangnya.

Kekhawatiran ini cukup beralasan jika melihat data pasar saat ini. Agus menjelaskan bahwa sekitar 60 persen mobil listrik murni (BEV) yang terjual di Indonesia berasal dari China. Sisanya merupakan kendaraan hasil rakitan lokal (CKD) atau impor dari negara lain.

Data dari asosiasi industri kendaraan bermotor pun mengonfirmasi tren ini. Sepanjang tahun 2025, pengiriman mobil listrik murni dari pabrik ke diler (wholesales) hampir menembus angka 100 ribu unit. Dari jumlah tersebut, model yang diimpor dalam kondisi utuh (CBU) dari China menyumbang porsi terbesar, yaitu sekitar 61 persen. Sementara itu, model non-CBU China atau hasil rakitan lokal menyumbang 38,9 persen.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar