Harga Pupuk Urea Global Melonjak 86% Didorong Biaya Gas Alam dan Gangguan di Selat Hormuz

- Kamis, 16 April 2026 | 05:25 WIB
Harga Pupuk Urea Global Melonjak 86% Didorong Biaya Gas Alam dan Gangguan di Selat Hormuz

PARADAPOS.COM - Harga pupuk urea di pasar global melonjak tajam, mencatat kenaikan sekitar 86 persen sejak awal tahun 2026. Lonjakan ini didorong oleh dua faktor utama: kenaikan biaya gas alam sebagai bahan baku produksi dan gangguan logistik yang parah di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Kondisi ini menambah tekanan pada sektor pertanian dunia di tengah ketidakpastian geopolitik.

Gas Alam dan Guncangan Rantai Pasok

Analisis pasar menunjukkan, komponen energi menyumbang sekitar 60 persen dari biaya produksi pupuk nitrogen seperti urea. Volatilitas harga gas alam dalam beberapa bulan terakhir secara langsung mendorong biaya produksi naik. Situasi ini diperparah dengan lumpuhnya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur laut kritis untuk perdagangan energi dan komoditas—sejak eskalasi konflik di Timur Tengah pada akhir Februari lalu. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan tekanan ganda pada harga.

Dampak Langsung ke Pasar dan Respons Negara Produsen

Pada perdagangan Rabu (16/4/2026), harga urea tercatat naik 2,5 persen menjadi 720 dolar AS per ton. Kenaikan beruntun ini diperkirakan akan mempersempit margin keuntungan petani dan berpotensi memengaruhi pola tanam untuk musim-musim mendatang. Menanggapi gejolak pasar, sejumlah negara produsen utama, termasuk Tiongkok dan Rusia, dilaporkan mulai memberlakukan kontrol ekspor yang lebih ketat. Langkah ini diambil untuk memprioritaskan ketersediaan pupuk di pasar domestik mereka masing-masing, yang pada gilirannya dapat semakin membatasi pasokan global.

Seperti dilaporkan oleh kantor berita Anadolu, gangguan di Selat Hormuz terjadi setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu peperangan di kawasan tersebut.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Dengan ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan pasar energi yang masih fluktuatif, harga pupuk diperkirakan akan tetap tinggi dalam jangka pendek hingga menengah. Kondisi ini menempatkan pemerintah dan pelaku industri pertanian di berbagai negara, termasuk yang mengandalkan impor, pada situasi yang menantang. Mereka dituntut untuk mencari strategi mitigasi, baik melalui diversifikasi pasokan, efisiensi penggunaan, maupun kebijakan penstabilan harga, untuk melindungi ketahanan pangan nasional.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar