HNW Dorong Diplomasi Haji 2026 Jadi Momentum Hentikan Perang di Timur Tengah

- Kamis, 16 April 2026 | 11:50 WIB
HNW Dorong Diplomasi Haji 2026 Jadi Momentum Hentikan Perang di Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mendorong penguatan diplomasi internasional guna menghentikan eskalasi konflik di Timur Tengah. Seruan ini disampaikan dengan pertimbangan mendalam terhadap dampak perang terhadap stabilitas global, termasuk ancaman terhadap keamanan dan kelancaran penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M yang melibatkan jutaan jemaah dari seluruh dunia.

Momentum Haji untuk Perdamaian

Dalam pertemuan halal bil halal dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Amody, di Jakarta, Rabu (15/6/2026), HNW menekankan bahwa ibadah haji seharusnya menjadi momentum strategis untuk merajut perdamaian. Pertemuan yang juga dihadiri sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara dan fraksi itu berlangsung dalam suasana prihatin atas konflik yang berpotensi mengganggu sektor keamanan dan ekonomi, terutama biaya penerbangan akibat fluktuasi harga avtur.

Di hadapan para tamu, politisi senior itu menguraikan visinya. Menurutnya, perdamaian yang tercipta berkat spirit haji berpeluang menjadi permanen jika semua pihak bersungguh-sungguh.

"Saya kembali menyampaikan pendapat yang pernah saya sampaikan saat Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Haji dan Umrah serta harapan dan dukungan kepada Duta Besar Saudi Arabia agar penyelenggaraan Ibadah Haji dapat menjadi momentum menghentikan perang dengan segala dampak negatifnya, serta menghadirkan perdamaian, selain di kawasan Haramain (Mekah dan Madinah/Arab Saudi)," jelas HNW dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
"Tetapi juga di seluruh jalur perjalanan jamaah dari negara masing-masing seperti dari Iran, Amerika Serikat dan lain-lain negara yang juga terlibat dalam perang, menuju Arab Saudi. Agar seluruh proses menuju dan melaksanakan Ibadah Haji berlangsung aman, kondusif yang akan memungkinkan jamaah beribadah dengan tenang dan khusyuk. Doa-doa mereka untuk perdamaian, keadilan dan kesejahteraan masyarakat global dapat diwujudkan," lanjutnya.

Seruan Hentikan Eskalasi dan Penegakan Hukum Internasional

Berdasarkan pertimbangan itu, HNW secara khusus menyerukan kepada semua pihak yang bertikai, terutama Amerika Serikat, Israel, dan Iran, untuk menghentikan permusuhan. Dia menilai eskalasi konflik tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga keselamatan jemaah haji dari berbagai negara, termasuk yang berasal dari negara-negara yang berkonflik.

Lebih jauh, HNW mengecam berbagai serangan militer yang menyasar fasilitas sipil, seperti sekolah dan rumah sakit, maupun infrastruktur vital. Menurutnya, tindakan semacam itu merupakan pelanggaran prinsip hukum internasional yang justru memicu ketidakstabilan lebih luas.

"Sudah lama saya menolak serangan militer ke sasaran non-militer, fasilitas umum seperti sekolah atau rumah sakit di Iran, maupun serangan terhadap fasilitas vital di Saudi Arabia seperti Aramco. Karena itu jelas melanggar hukum internasional dan membahayakan stabilitas kawasan yang bisa berdampak pada krisis ekonomi global," tegasnya.

Perluasan Inisiatif Perdamaian agar Lebih Komprehensif

Meski menyambut baik berbagai inisiatif perdamaian, seperti upaya yang dilakukan Pakistan, HNW mengusulkan agar cakupan diplomasi diperluas. Tujuannya agar solusi yang dihasilkan tidak parsial, tetapi menyeluruh dan berkeadilan bagi semua pihak di kawasan.

"Prakarsa penghentian perang Pakistan itu, agar dapat dengan keadilan hadirkan perdamaian, maka spektrumnya perlu diperluas agar mencakup seluruh kawasan, tidak hanya mencakup AS-Iran dengan memasukkan Libanon, tetapi juga penghentian perang dan hadirnya perdamaian bagi Palestina dan negara-negara Teluk," ungkapnya.
"Sehingga dapat menghadirkan keadilan dan mewujudkan perdamaian secara menyeluruh. Apalagi sudah ada komunikasi intensif antara Menlu Iran dan Menlu Saudi Arabia, serta sudah ditandatanganinya akta kerja sama strategis antara Pakistan dengan Saudi Arabia dan lain-lain," sambungnya.

Kepentingan Indonesia dan Peran Strategis Arab Saudi

Sebagai negara dengan kuota jemaah haji terbesar dunia, yang mencapai 221 ribu orang, Indonesia memiliki kepentingan vital terhadap stabilitas di Timur Tengah. HNW menegaskan bahwa diplomasi haji untuk perdamaian harus menjadi bagian integral dari upaya bersama Indonesia dan Arab Saudi guna mensukseskan haji 2026.

Dalam kesempatan tersebut, HNW bersama para ulama dan tokoh yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas jaminan keamanan dari Pemerintah Arab Saudi. Mereka mengakui kinerja positif Kerajaan dalam melayani dan menjaga dua kota suci, Mekah dan Madinah.

Namun, HNW juga mengingatkan nasib Masjid Al-Aqsha yang masih berada di bawah kendali Israel. Dia mendorong Arab Saudi, dengan pengaruhnya di kawasan, untuk dapat memainkan peran lebih aktif dan efektif dalam upaya pembebasan masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam tersebut.

Harapan untuk Haji yang Aman dan Damai

Pada akhir pernyataannya, HNW menyampaikan harapan kolektif agar semua pihak mengedepankan kemaslahatan umat manusia.

"Karena itu, semuanya berharap agar semua pihak dapat mengedepankan kemaslahatan kemanusiaan dengan menghentikan perang. Menghadirkan perdamaian dengan menurunkan eskalasi konflik agar terjadi stabilitas di kawasan yang akan berdampak positif bagi keselamatan dari dari dampak krisis ekonomi maupun politik," tuturnya.
"Juga untuk memastikan penyelenggaraan Ibadah Haji tahun 2026 dapat berjalan dengan baik aman dan damai, dengan biaya yang tidak melonjak. Dan dengan demikian umat Islam sedunia termasuk yang berasal dari AS maupin Iran dapat melaksanakan ibadah haji dengan aman, damai, dan khusyuk. Berhentinya perang dan hadirnya perdamaian berdasarkan keadilan global termasuk dapat dibebaskannya Masjid Al-Aqsha, maka pelaksanaan haji 2026 malah benar-benar bisa menjadi momentum penting hadirkan kerjasama global dan bersatunya umat Islam di tingkat dunia yang hanya akan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia," pungkas Hidayat.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar