PARADAPOS.COM - Ratusan kapal nelayan terpaksa tertambat di Pelabuhan Kejawanan, Cirebon, Jawa Barat, akibat kelangkaan bahan bakar solar industri yang telah berlangsung lebih dari sebulan. Kondisi ini, yang dipicu oleh gejolak rantai pasokan global, menghentikan aktivitas melaut dan mengancam mata pencaharian ribuan nelayan di kawasan tersebut.
Dampak Langsung di Lapangan
Pemandangan di pelabuhan pun berubah drastis. Kapal-kapal berukuran di atas 30 gross ton, yang biasanya hilir mudik membawa hasil tangkapan, kini memadati area tambat. Mereka tak bisa berlayar karena kebutuhan bahan bakar pokoknya tak terpenuhi. Setiap kapal memerlukan rata-rata 24.000 liter solar untuk sekali operasi melaut, sebuah kebutuhan yang saat ini mustahil dipenuhi.
Upaya para pemilik kapal untuk menambah jatah atau mencari pasokan alternatif dari distributor swasta pun mentah. Stok solar industri di titik-titik pasokan setempat dilaporkan kosong, membuat seluruh armada tak berdaya.
Suara Nelayan dan Upaya Pemerintah Daerah
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Cirebon, Kasrudin, dengan tegas menggambarkan skala masalah ini di lokasi kejadian.
"Kapal yang menumpuk sekarang seratus lebih," ungkapnya.
Merespons keluhan yang kian mendesak, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKPP) Kota Cirebon telah menggelar sejumlah koordinasi. Sayangnya, bantuan awal dari Pertamina berupa 8.000 liter Pertamina Dex dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan riil untuk menggerakkan seluruh armada yang terdampak.
Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan DKPP Kota Cirebon, Yudi Lukman Hakim, mengakui bahwa pihaknya masih terus berupaya mencari jalan keluar, termasuk membuka komunikasi lebih intens dengan pelaku usaha swasta.
"Ada 126 kapal yang berhak subsidi," jelas Yudi, menyoroti besarnya skala bantuan yang diperlukan.
Krisis Terparah dalam Dua Tahun
Bagi komunitas nelayan Kejawanan, situasi kali ini disebut-sebut sebagai yang terberat dalam kurun dua tahun terakhir. Kelangkaan solar non-subsidi telah benar-benar melumpuhkan denyut nadi ekonomi pelabuhan. Para pemilik kapal dan nelayan kini hanya bisa berharap pasokan segera normal, agar roda kehidupan yang bergantung pada laut dapat kembali berputar. Ketidakpastian yang berkepanjangan bukan hanya soal pendapatan yang hilang, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dari sektor perikanan tangkap lokal.
Artikel Terkait
Pemkot Surabaya Prioritaskan Rusunami di Ngagel, Targetkan Pembangunan 2026
Pemprov DKI Perkuat Pasokan Pangan Antisipasi Dampak El Nino hingga 2026
Minyak Mentah Rusia Dijadwalkan Tiba di Indonesia April 2026
Menteri Zulhas Wajibkan SPPG Serap Bahan Pangan dari Desa