PDI Perjuangan Putar Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme di Setiap Agenda Partai untuk Pelurusan Sejarah

- Senin, 01 Juni 2026 | 07:00 WIB
PDI Perjuangan Putar Lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme di Setiap Agenda Partai untuk Pelurusan Sejarah

PARADAPOS.COM - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan alasan partainya akan memutar lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” di setiap agenda resmi partai. Pernyataan itu disampaikan usai ia menghadiri Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni, yang berlangsung di Halaman Masjid At Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Senin (1/6). Menurut Hasto, langkah ini merupakan bagian dari upaya pelurusan sejarah dan konsolidasi ideologi partai.

Pelurusan Sejarah di Tengah Keterputusan Masa Lalu

Di sela-sela acara yang dihadiri kader dan simpatisan, Hasto menjelaskan bahwa pemutaran lagu tersebut menjadi penting, terutama setelah PDI Perjuangan mengalami apa yang ia sebut sebagai keterputusan sejarah pada masa Orde Baru. Suasana di lokasi tampak khidmat; bendera merah putih berkibar diiringi alunan lagu yang sarat makna perjuangan itu.

“Itu membangkitkan kesadaran kita tentang watak sejati Pancasila untuk mengubah struktur yang menindas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan dan kerakyatan itu sendiri,” ujar Hasto pada hari yang sama.

Menghapus Stigma Negatif Istilah Marhaen

Lebih jauh, politikus yang juga alumnus Universitas Pertahanan itu menekankan bahwa lagu ini diperkenalkan untuk menghapus stigma negatif yang sengaja dilekatkan pada istilah “Marhaen” di masa lalu. Ia menegaskan bahwa Marhaen bukanlah komunis, seperti yang kerap dituduhkan oleh sebagian pihak selama ini.

“Marhaen menjadi sebuah realitas sosial yang menjadi dasar perjuangan Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno. Itu suatu realitas sosial yang terjadi sebagai setting historis bagi Bung Karno untuk memerdekakan rakyat Indonesia yang terpinggirkan. Mereka mandiri tapi mereka harus dibangun kesadarannya,” tuturnya.

Pernyataan itu disampaikan Hasto dengan nada tenang namun tegas, seolah ingin memastikan tidak ada lagi kesalahpahaman mengenai akar pemikiran sang proklamator. Di sekelilingnya, beberapa kader partai mengangguk setia, sementara wartawan terus mencatat setiap kalimat yang dilontarkan.

Spirit Lagu, Bukan Sekadar Formalitas

Saat ditanya awak media mengenai kemungkinan PDI Perjuangan mengusulkan lagu tersebut diputar di acara kenegaraan, Hasto menjawab dengan hati-hati. Ia menekankan bahwa bagi partainya, yang terpenting adalah penyerapan spirit atau roh dari lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” ke dalam kebijakan nyata demi kesejahteraan rakyat.

“Bagi PDIP lagu mars Bung Karno Bapak Marhaenisme yang penting itu spiritnya itu, spirit tentang kemerdekaan kita, tentang politik kita itu untuk rakyat Marhaen,” katanya.

Ia melanjutkan, refleksi terhadap pemikiran para pendiri bangsa sangat krusial, mengingat kondisi Indonesia saat ini yang dinilai masih tertinggal dalam beberapa sektor makro. Melalui esensi lagu tersebut, PDI Perjuangan ingin mengembalikan fokus politik pada esensi mencerdaskan dan membebaskan bangsa.

“Maka dengan spirit lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme, kita memperkuat watak sejati politik yang membebaskan dari berbagai belenggu kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan,” pungkas Hasto.

Pernyataan itu menjadi penutup dari rangkaian penjelasan yang berlangsung di bawah terik matahari Jakarta Selatan, meninggalkan kesan bahwa bagi PDI Perjuangan, lagu ini bukan sekadar simbol, melainkan panggilan untuk terus bergerak.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar