Pemerintah Tunda Suntik Mati Pabrik Pupuk Tua, Manfaatkan Peluang Ekspor di Tengah Lonjakan Harga Global

- Sabtu, 18 April 2026 | 11:25 WIB
Pemerintah Tunda Suntik Mati Pabrik Pupuk Tua, Manfaatkan Peluang Ekspor di Tengah Lonjakan Harga Global

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menunda rencana pensiun atau "suntik mati" sejumlah pabrik pupuk tua. Kebijakan taktis ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan harga urea global yang mendekati US$900 per ton dan gangguan pasokan dunia, terutama akibat ketegangan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz. Alih-alih dinonaktifkan, fasilitas produksi berusia lanjut itu kini dioptimalkan kembali untuk mengejar peluang ekspor dan menjaga stok nasional di tengah krisis.

Respons Cepat di Tengah Disrupsi Global

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan, disrupsi dalam rantai pasok pupuk dunia justru membuka peluang bagi Indonesia. Dalam kondisi normal, pabrik-pabrik tua itu telah dijadwalkan untuk diremajakan secara bertahap.

"Tadinya kan pabrik yang sudah tua ini ibaratnya pelan-pelan kami akan remajakan sehingga yang lama nanti kami suntik mati lah katakanlah gitu," tuturnya di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Namun, gejolak pasar global mengubah perhitungan tersebut. Kebutuhan berbagai negara akan pupuk yang mendesak membuat kapasitas produksi lama kembali dihidupkan.

"Tetapi karena ada disrupsi ini, di mana harga pupuk berapapun negara lain mau beli. Jadi ya kami nyalakan saja pabriknya sehingga kita bisa juga punya added value, punya nilai ekonomi yang bisa kita dapatkan dari penjualan urea kita ke negara lain," jelas Sudaryono.

Analisis Peluang dan Risiko Jangka Pendek

Keputusan pemerintah ini mendapat tanggapan dari kalangan analis. Peneliti Indef Afaqa Hudaya menilai langkah tersebut tepat sebagai respons cepat dalam situasi yang dinamis. Dia memaparkan bahwa gangguan di Selat Hormuz, yang mengalirkan sepertiga pasokan pupuk global, telah menciptakan gejolak harga yang ekstrem.

"Dalam kondisi seperti ini, pabrik yang sebelumnya dianggap tidak efisien justru kembali layak dioperasikan. Jadi langkah pemerintah ini lebih ke respons cepat untuk menjaga pasokan sekaligus menangkap peluang ekspor. Tetapi perlu diingat, ini solusi jangka pendek, bukan untuk selamanya," ungkap Afaqa, dikutip pada Sabtu (18/4/2026).

Posisi Indonesia dinilai sangat strategis. Dengan kapasitas produksi urea nasional sekitar 9,4 juta ton per tahun dan potensi ekspor hingga 1,5 juta ton, permintaan dari negara-negara seperti India, Australia, dan Filipina terbuka lebar.

"Bahkan ada yang siap membeli dengan harga tinggi. Jadi posisi Indonesia saat ini sangat strategis di pasar pupuk global," lanjutnya.

Efisiensi Jangka Panjang Tetap Jadi Tantangan

Di balik peluang keuntungan sesaat, para analis mengingatkan bahwa pengoperasian pabrik tua menyimpan sejumlah tantangan mendasar. Dari sisi biaya, fasilitas berusia di atas 30 tahun itu umumnya memiliki konsumsi energi dan gas yang jauh lebih tinggi dibandingkan pabrik baru, sehingga tingkat efisiensinya jauh lebih rendah.

"Jadi dalam kondisi normal, pabrik tua ini sebenarnya tidak kompetitif. Mereka 'hidup kembali' sekarang bukan karena efisien, tetapi karena harga pasar sedang sangat tinggi," tegas Afaqa.

Risiko teknis juga perlu diwaspadai. Pabrik berumur cenderung lebih rentan mengalami gangguan operasional, memerlukan perawatan yang lebih intensif, dan berpotensi menghasilkan kualitas produk yang kurang stabil. Aspek keselamatan kerja juga membutuhkan perhatian ekstra mengingat usia peralatan yang sudah uzur.

Momentum Sementara untuk Persiapan Masa Depan

Lonjakan harga yang hampir dua kali lipat ini, bagi sebagian pihak, diibaratkan seperti "durian runtuh" yang mampu menutupi inefisiensi dan mengubah pabrik yang semula merugi menjadi untung. Namun, semua pihak menyadari bahwa kondisi ini bersifat sementara dan digerakkan oleh faktor eksternal, bukan peningkatan produktivitas internal.

Oleh karena itu, momentum ini dinilai harus dimanfaatkan sebagai langkah transisi. Keuntungan yang diperoleh dari ekspor di tengah harga tinggi seyogianya dapat dialokasikan untuk mempercepat agenda modernisasi industri. Komitmen untuk mendorong peremajaan pabrik, peningkatan efisiensi energi, dan pengurangan ketergantungan pada teknologi lama dinilai tetap harus menjadi prioritas jangka panjang agar industri pupuk nasional tetap tangguh menghadapi fluktuasi pasar global di masa depan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar