PARADAPOS.COM - Parlemen Israel, Knesset, resmi membubarkan diri pada Jumat, 17 Juli 2026, melalui pemungutan suara yang menghasilkan 62 suara mendukung dari total 120 anggota. Keputusan ini membuka jalan bagi penyelenggaraan pemilihan umum yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berada dalam posisi yang tidak menentu, berusaha mempertahankan kekuasaan di tengah menurunnya popularitas dan tekanan politik yang semakin kuat.
Netanyahu Berjuang di Tengah Tekanan Politik
Benjamin Netanyahu, politisi senior dari Partai Likud, tengah berupaya keras untuk mengamankan masa jabatan berikutnya. Namun, dukungan dari mitra koalisinya yang selama ini menjadi penopang kekuasaannya mulai goyah. Dalam pemilu mendatang, belum ada jaminan bahwa koalisi sayap kanannya akan kembali solid seperti sebelumnya.
Selama empat tahun memerintah, pemerintahan Netanyahu yang beraliran kanan telah mengesahkan sejumlah rancangan undang-undang kontroversial. Beberapa di antaranya bahkan baru disahkan dalam beberapa hari terakhir sebelum pembubaran parlemen. Langkah-langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat posisi perdana menteri sekaligus memuaskan tuntutan koalisi dari kelompok ultra-Ortodoks.
RUU Kontroversial di Sesi Pleno Terakhir
Dalam sidang pleno yang berlangsung panjang dan alot, koalisi Netanyahu berhasil mengesahkan beberapa aturan penting. Salah satunya adalah pencabutan kekuasaan jaksa agung, sebuah langkah yang menuai kritik tajam dari berbagai kalangan hukum. Selain itu, parlemen juga menyetujui aturan yang membatalkan penangkapan terhadap warga yang menolak wajib militer, serta memperluas pengawasan pemerintah terhadap media massa.
Tidak hanya itu, dalam RUU yang memberikan lampu hijau bagi pembubaran parlemen, anggota Knesset juga menyetujui peningkatan anggaran untuk partai-partai politik. Keputusan ini semakin memperkuat kesan bahwa proses politik yang berlangsung sarat dengan kepentingan jangka pendek para elit.
Prosedur Pembubaran dan Masa Transisi
Meskipun parlemen telah dibubarkan, anggota Knesset Sagit Afik menjelaskan bahwa lembaga tersebut masih bisa beroperasi selama sekitar sepuluh hari ke depan. Hal ini disebabkan oleh adanya kebuntuan dalam sidang pleno terkait undang-undang yang menentukan tanggal pemilu. RUU tersebut akhirnya dikembalikan lagi ke komite untuk dibahas lebih lanjut.
Ketua parlemen Amir Ohana secara resmi menutup sidang pada Jumat tengah malam hingga Sabtu dini hari. Dalam pernyataannya, ia menyoroti suasana politik yang tegang.
“Sesi ini ditandai dengan berbagai macam protes, bertepatan dengan perang terberat dan terpanjang dalam sejarah negara ini,” ujar Ohana.
Nasib Netanyahu di Ujung Tanduk
Netanyahu tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel. Namun, posisinya kini semakin rapuh. Jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel menginginkan dirinya mundur. Kemarahan publik dipicu oleh kegagalan keamanan yang terjadi pada serangan 7 Oktober 2023 oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Di tengah situasi ini, muncul nama Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF), sebagai pesaing terkuat Netanyahu. Dengan popularitas yang terus merosot, perdana menteri berusia 76 tahun itu menghadapi tantangan terbesar dalam karier politiknya.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Iran Serang Pangkalan Militer AS di Arab Saudi, Eskalasi Konflik Meluas
AS Serang Iran untuk Malam Keenam Berturut-turut, Targetkan Bandar Abbas hingga Ahvaz
Trump Frustrasi dengan Operasi Militer Lawan Iran, Pertimbangkan Serangan Skala Besar
Bangladesh Sita Aset Mantan PM Sheikh Hasina Senilai Rp112 Triliun dalam Kasus Korupsi