Rupiah Terperosok ke Rp17.181 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik dan Beban Utang Pemerintah Tertinggi dalam Dekade

- Rabu, 22 April 2026 | 08:50 WIB
Rupiah Terperosok ke Rp17.181 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik dan Beban Utang Pemerintah Tertinggi dalam Dekade
PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok pada perdagangan Rabu, 22 April 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,22 persen atau setara 38 poin ke level Rp17.181 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah indeks dolar AS yang justru ikut melemah tipis 0,11 persen ke posisi 98,28. Tekanan terhadap rupiah datang dari berbagai arah, mulai dari ketegangan geopolitik global yang masih membara hingga beban likuiditas utang pemerintah yang mencapai titik tertinggi dalam satu dekade.

Gejolak Global dan Ketidakpastian Timur Tengah

Dari panggung internasional, sentimen negatif masih didominasi oleh dinamika konflik di Timur Tengah. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengamati bahwa rupiah di pasar keuangan tengah dihadapkan pada beragam sentimen. Mulai dari konflik geopolitik global hingga likuiditas utang pemerintah, semuanya berperan menekan pergerakan rupiah. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu. Langkah ini disebutnya untuk memberi ruang bagi negosiasi lebih lanjut guna mengakhiri perang. Namun, di sisi lain, Trump juga menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan tetap mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran. Sikap ini langsung ditanggapi oleh para pemimpin Iran sebagai sebuah tindakan perang. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang sulit diprediksi. "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.180 sampai Rp17.220 per dolar AS," ujar Ibrahim, Rabu (22/4/2026).

Harga Minyak dan Tekanan Fiskal

Situasi di Timur Tengah juga berdampak langsung pada harga energi global. Ibrahim menjelaskan bahwa lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global, sebagian besar terhenti pada hari Selasa (21/4). Gangguan ini jelas berpotensi mendorong tren kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak ini menjadi risiko tersendiri bagi fiskal negara. Di sisi lain, inflasi energi global juga akan mempengaruhi kebijakan bank sentral AS. Kandidat Ketua The Fed pilihan Trump, Kevin Warsh, menekankan independensi The Fed dari politik. Namun, ia juga mengisyaratkan akan ada perombakan kebijakan besar di bank sentral jika dirinya dikonfirmasi sebagai ketua.

Beban Utang Pemerintah yang Menggunung

Sementara itu, di dalam negeri, pemerintah tengah menghadapi tekanan likuiditas yang sangat besar pada tahun 2026. Hal ini seiring dengan jatuh tempo utang yang mencapai angka fantastis, yaitu Rp833,96 triliun. Angka ini merupakan level tertinggi yang pernah tercatat dalam satu dekade terakhir. "Lonjakan kewajiban ini menandai fase krusial dalam pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global," jelas Ibrahim. Nilai jatuh tempo pada 2026 ini bahkan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp800,33 triliun. Angka ini menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025 hingga 2036. Ibrahim menambahkan, tekanan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Besarnya kewajiban tersebut merupakan akumulasi dari penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia selama pandemi COVID-19.

Sikap Bank Indonesia di Tengah Badai

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) mengambil sikap yang cenderung wait and see. Bank sentral memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility juga tetap dipertahankan di level 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility di level 5,5 persen. "Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah," tandas Ibrahim.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar