PARADAPOS.COM - Ahli digital forensik Rismon Sianipar secara terbuka mengakui keaslian ijazah sarjana Presiden Joko Widodo, setelah sebelumnya menyatakan dokumen tersebut palsu. Pernyataan korektif ini disampaikannya melalui kanal YouTube pribadi pada 11 Maret 2026, berdasarkan analisis ulang terhadap foto ijazah yang beredar di media sosial. Dengan menggunakan metode forensik digital canggih, Sianipar mengklaim menemukan watermark dan emboss tersembunyi yang menjadi bukti keautentikan dokumen tersebut.
Metode Analisis dan Temuan Watermark
Penelitian yang dilakukan Rismon Sianipar berangkat dari sebuah foto ijazah yang diunggah di platform media sosial. Untuk menguji keasliannya, ia menerapkan dua teknik analisis citra digital: gradient domain dan reaction diffusion. Teknik pertama berfungsi menyoroti perubahan gradien pada gambar, sementara yang kedua membantu memperjelas objek beresolusi rendah. Melalui pendekatan teknis ini, unsur keamanan yang tidak kasat mata berhasil diungkap.
“Ini ada bintik-bintik. Nah ini itu watermark,” tutur Rismon dalam sebuah tayangan wawancara.
Ia memaparkan bahwa pola bintik tersebut, setelah dianalisis, membentuk tulisan “Universitas Gadjah Mada”. Menurut penjelasannya, watermark semacam ini merupakan fitur keamanan yang sengaja ditanamkan dan hanya dapat diidentifikasi melalui proses pemeriksaan digital khusus, bukan dengan penglihatan biasa.
Emboss dan Perbandingan dengan Ijazah Lain
Selain watermark, analisis lebih lanjut juga mengungkap keberadaan emboss atau cetak timbul di dekat kolom tanda tangan rektor. Untuk memperkuat kesimpulannya, Sianipar kemudian membandingkan ijazah Joko Widodo dengan empat ijazah lain dari fakultas dan tahun kelulusan yang sama. Perbandingan visual yang dibantu metode statistik seperti K-Means Clustering ini menunjukkan kesamaan identitas yang signifikan.
Berdasarkan serangkaian pemeriksaan itu, ia akhirnya menarik kesimpulan yang berbeda dari pernyataan awalnya. “Dari hasil perbandingan tersebut, Rismon menyimpulkan bahwa ijazah Jokowi identik dan asli,” jelasnya.
Koreksi atas Analisis Skripsi dan Font
Tak berhenti pada ijazah, Rismon Sianipar juga merevisi pandangannya terkait skripsi Joko Widodo. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam analisis sebelumnya yang menyoroti penggunaan font Times New Roman—yang dinilai anachronistik untuk dokumen tahun 1985. Setelah penelusuran mendalam, ia menemukan bahwa font digital Times Roman telah tersedia sejak 1984, setahun sebelum kelulusan Jokowi.
“Ternyata sebelum Times New Roman muncul di Windows 3.1, sudah ada Times Roman sejak 1984,” ungkapnya, mengoreksi kesalahan sebelumnya.
Ia pun merekonstruksi lembar pengesahan skripsi dengan font yang sesuai era tersebut, sekaligus memberikan konteks bahwa pada masa itu, kelengkapan tanda tangan di lembar pengesahan seringkali bervariasi karena keterbatasan teknis percetakan.
Pengakuan Menyembunyikan Fakta
Di akhir pemaparannya, Rismon Sianipar membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Ia mengakui bahwa sebagian temuan yang mendukung keaslian dokumen sebenarnya telah diketahui lebih awal, namun sengaja tidak diungkap.
“Ini saya sembunyikan untuk mendukung kebohongan saya sebelumnya,” ujarnya secara gamblang.
Pengakuan ini menutup sebuah episode panjang pemeriksaan forensik digital yang penuh kontroversi, sekaligus memberikan titik terang baru mengenai validitas dokumen akademik Presiden tersebut berdasarkan metode ilmiah yang ia gunakan.
Artikel Terkait
Menu Mewah Makan Bergizi Gratis di Nabire Timbulkan Tanya Saat Kunjungan Gibran
Pemerintah Perluas Vaksinasi HPV ke Laki-Laki Mulai Tahun Ini
Nama Vell Viral di Media Sosial, Publik Diimbau Waspada Tautan Mencurigakan
Penkopassus Bantah Hoaks Penamparan Seskab Teddy oleh Pangkopassus