PARADAPOS.COM - PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. (SIPD) memproyeksikan pertumbuhan kinerja pada tahun 2026 dengan mengandalkan penguatan fundamental bisnis dan efisiensi operasional. Strategi ini dirancang untuk menghadapi dinamika industri perunggasan yang penuh tantangan, mulai dari fluktuasi harga bahan baku hingga perubahan pola konsumsi. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Selasa (21/4/2026), jajaran direksi dan komisaris memaparkan langkah-langkah konkret untuk menjaga ketahanan dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Strategi Utama Menghadapi 2026
Di tengah tekanan ekonomi global dan volatilitas pasar, manajemen Sreeya Sewu memilih untuk tidak bersikap agresif dalam ekspansi, melainkan fokus pada konsolidasi internal. Peningkatan efisiensi di seluruh lini, inovasi produk, dan penguatan strategi pemasaran menjadi tiga pilar utama. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi semua pemangku kepentingan di tengah ketidakpastian.
Direktur Utama SIPD, Eddy Tamboto, menegaskan komitmen perusahaan tersebut. "Fokus ke depan mencakup peningkatan efisiensi, inovasi produk, serta penguatan strategi pemasaran guna menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.
Kinerja 2025 dan Kontribusi Segmen Bisnis
Sebelum melangkah ke target tahun depan, perusahaan mencatatkan kinerja yang stabil sepanjang 2025. Ketahanan bisnis diuji oleh berbagai faktor eksternal, namun strategi adaptif yang diterapkan mampu menjaga momentum. Dari sisi operasional, bisnis pakan ternak masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar, mencapai Rp2,6 triliun atau sekitar 48% dari total. Segmen pembibitan dan peternakan ayam menyusul di posisi kedua dengan kontribusi Rp1,5 triliun (27%), diikuti oleh ayam potong dan makanan beku sebesar Rp1,4 triliun (25%).
Eddy Tamboto menambahkan, penguatan rantai pasok terintegrasi dari hulu ke hilir akan terus dilakukan. Langkah ini dipandang vital untuk mengendalikan kualitas dan biaya, sekaligus mendorong inovasi berbasis teknologi.
Tantangan Industri dan Penopang Permintaan
Jalan menuju pertumbuhan 2026 tidak akan mulus. Komisaris Independen SIPD, Theo Lekatompessy, mengakui sejumlah tantangan berat yang harus dihadapi. Fluktuasi harga bahan baku pakan, kebijakan pemerintah, dan ketidakseimbangan pasokan-permintaan adalah beberapa di antaranya. Kenaikan harga jagung, misalnya, dipantau sangat sensitif terhadap fenomena cuaca seperti El Nino yang berpotensi menekan produksi.
Namun, di balik awan tersebut, terdapat cerah dari sisi permintaan. Theo Lekatompessy menjelaskan, "Strategi ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan menciptakan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan."
Konsumsi protein hewani, khususnya ayam, di dalam negeri dinilai masih sangat prospektif. Harga ayam potong saat ini menunjukkan pemulihan, stabil di kisaran Rp20.000–Rp23.000 per kilogram. Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) turut berkontribusi menjaga permintaan. Yang menggembirakan, konsumsi ayam per kapita Indonesia masih berada di angka 10,1–10,5 kg per tahun, jauh di bawah Filipina dan Thailand, yang menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas.
Target Keuangan dan Ruang Ekspansi
Secara numerik, manajemen memasang target yang realistis namun optimistis. Pertumbuhan pendapatan ditargetkan sekitar 10%–15% secara tahunan, dengan pertumbuhan laba bersih yang lebih agresif di kisaran 30%–40%. Target ini disokong oleh kinerja 2025 di mana laba bersih perusahaan melonjak tajam menjadi Rp29,32 miliar dari hanya Rp3,32 miliar pada tahun sebelumnya.
Direktur SIPD, Natanael Yuyun Suryadi, membeberkan strategi keuangan tersebut. "Dari sisi top line kami tetap bertumbuh, tetapi tidak terlalu agresif karena kondisi ekonomi global memberi tekanan pada biaya. Fokus kami adalah menjaga struktur biaya dan mempertahankan gross margin," jelasnya.
Untuk mendukung target tersebut, perusahaan masih memiliki ruang gerak yang cukup tanpa perlu investasi besar di infrastruktur baru. Tingkat utilisasi pabrik pakan ternak saat ini sekitar 70%, sementara pabrik di segmen hilir beroperasi pada 60%–65%. Artinya, masih ada kapasitas menganggur yang dapat dimanfaatkan untuk menyerap pertumbuhan penjualan. Ke depan, ekspansi juga akan diarahkan ke segmen pakan non-unggas dan penguatan produk hilir seperti makanan beku, guna mendiversifikasi portofolio dan mengurangi volatilitas bisnis.
Susunan Dewan dan Direksi Terkini
Dalam RUPST yang sama, perusahaan juga mendapatkan persetujuan atas perubahan susunan dewan. Susunan terbaru Dewan Komisaris dan Direksi PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk. adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
- Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen : Antonious Joenoes Supit
- Komisaris Independen : Theo Lekatompessy
- Komisaris Independen : Sungkono Sadikin
Dewan Direksi
- Direktur Utama : Eddy Tamboto
- Direktur : Irvan Cahyana
- Direktur : Natanael Yuyun Suryadi
- Direktur : Kent Kurnadi Sarosa
Dengan fondasi kepemimpinan yang solid dan strategi yang berfokus pada ketahanan, Sreeya Sewu berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas di tahun 2026 yang diprediksi masih sarat dengan dinamika.
Artikel Terkait
BI Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Tengah Tekanan Global
Indonesia Buka Peluang China Terbitkan Surat Utang di Pasar Domestik, Tawarkan Obligasi Panda Berbunga Rendah
Indonesia Dorong Asia Pasifik Jadi Kompas Pembangunan Berkelanjutan Dunia
6 dari 10 Gen Z di Jakarta Rela Pindah Hunian Demi Perjalanan ke Kantor yang Lebih Singkat